Tambang Ditutup, Polisi Telusuri Pelaku Rusuh di Bengkulu

Kapolda Bengkulu Brigjen Pol M Ghufron (kanan) dan personel TNI meninjau lobang galian bawah tanah milik PT Cipta Buana Seraya (CBS) pascaaksi kerusuhan, Minggu (12/6/2016).
Sumber :
  • ANTARA FOTO/David Muharmansyah

VIVA.co.id – Bentrokan antara warga dan Kepolisian pecah di Kabupaten Bengkulu Tengah, Sabtu 11 Juni 2016. Sejumlah warga dilaporkan tertembak dan luka-luka dan dua orang polisi menderita luka bacok.

Bentrokan berdarah ini ditengarai oleh aksi massa dari 12 desa di Bengkulu Tengah yang memprotes pembuatan terowongan untuk tambang bawah tanah di permukiman warga.

Kapolda Bengkulu, Brigjend Pol M Ghufron memastikan, kejadian ini merupakan kerusuhan dan dikendalikan oleh sejumlah orang. "Ada yang menggerakkan, kami akan usut itu," kata Ghufron di RSUD M Yunus Bengkulu, Minggu 12 Juni 2016. (Baca: )

Ghufron mengklaim, tindakan yang dilakukan personel polisi di kawasan perusahaan PT Cipta Buana Seraya (CBS) yang diamuk massa sudah tepat. Sebab, seluruh alur sudah dijalankan mulai dari tahapan negosiasi, penembakan gas air mata hingga ke penggunaan peluru karet. "Massa sudah tidak terkendali. Harus dibubarkan dengan tembakan peluru karet," katanya.

Puncak Kemarahan

Buah bentrokan antara warga dan Kepolisian ini memakan korban. Setidaknya ada empat warga terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Tiga dilaporkan tertembak dan satu lainnya menderita luka-luka.

Di sisi polisi. Dua orang personel mereka, bahkan ikut menderita. Tercatat, ada dua anggota Kepolisian yang terluka akibat terkena bacokan parang warga.

Sejauh ini, hingga Senin 13 Juni 2016, sudah dua korban dipulangkan, yakni Badrin (41), tertembak di leher dan Raden Yudi (34) dengan luka tembak di dada kanan. "Alimuan (50) dan Marta (18), masih dirawat di rumah sakit," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Polsi Agus Rianto di Jakarta, Senin 13 Juni 2016.

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bengkulu menilai, bentrokan ini terjadi akibat puncak kemarahan warga yang merasa protes dan aspirasi mereka tak didengar pemerintah.Pasalnya, sudah sejak Januari 2016, warga setempat sudah menyatakan tegas menolak ada aktivitas tambang bawah tanah di kawasan tempat tinggal mereka.

"Awal Mei, setidaknya ada 1.300 warga juga berdemonstrasi menolak. Jadi masalah ini bukan hal yang baru," kata anggota Walhi Bengkulu, Sony Taurus dalam keterangan persnya.

Tuntutan warga, menurut Sony, tegas menolak adanya aktivitas pertambangan di bawah tanah. Karena, warga ketakutan aktivitas tambang akan berdampak buruk pada permukiman mereka. "Di atas tambang itu ada kebun warga dan permukiman. Kami takut ada apa-apa. Karena itu kami menolak," kata Subroto, kakak dari Marta (18), korban tembak polisi.

Tambang disetop

Usai bentrok berdarah tersebut. Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti bersama Bupati Bengkulu Tengah Ferry Ramli telah menyepakati untuk menghentikan sementara aktivitas tambang bawah tanah milik PT CBS di Bengkulu Tengah. "Untuk menghindari konflik berkepanjangan, tambang bawah tanah dihentikan," kata Ferry.

Sementara untuk penyelidikan kerusuhan, Kepolisian setempat masih terus mendalami. Siapa saja yang diduga menjadi provokator dan penyebab bentrokan berdarah tersebut.

"Provokasi masih dilakukan pendalaman, dan dilakukan penyelidikan Polda Bengkulu. Siapa mereka-mereka yang menjadi provokator," ujar Agus Rianto menambahkan.

Hingga kini, sebanyak 250 anggota Kepolisian masih melakukan pengamanan di lokasi sekitar perusahaan tambang di Bengkulu. Hal ini guna mengantisipasi terjadinya demo lanjutan dari warga setempat.

(mus)