Sosok Basri, Tangan Kanan Teroris Santoso

Petugas kepolisian menunjukkan foto 10 orang anggota kelompok Santoso di Poso yang tertembak oleh Satgas Operasi Tinombala 2016 di Mapolda Sulawesi Tengah, Palu, Kamis (30/6).
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Basri Marzuki

VIVA.co.id – Prajurit Batalion 515 Jember, Kostrad, yang tergabung dalam Satgas Tinombala 2016 berhasil melumpuhkan terduga teroris Poso paling dicari saat ini, yakni Santoso alias Abu Wardah. Santoso tewas ditembak mati di Pegunungan Desa Tambarana, Kecamatan Poso, Pesisir Utara, Senin, 18 Juli 2016.

Sepeninggal Santoso, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dianggap masih eksis di Poso. Antara lain, masih ada tangan kanan Santoso yang masih buron, Basri. Siapa dia?

Menurut Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Pol Rudy Sufahriadi, Basri  
adalah buronan kepolisian dalam kasus terorisme. Di sisa setahun tahanannya, ia justru melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan.

"Basri ini pernah saya tangkap ketika saya menjadi Kapolres di Poso dan sedang menjalani hukuman. Sisa hukuman satu tahun lagi, dia melarikan diri dari LP di Ampana atas kasus terorisme. Tahun 2007 dia masuk," ujar Rudy, di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 19 Juli 2016.

Rudi sebelumnya menduga satu jenazah yang bersama Santoso adalah Basri. Dugaan itu diperkuat dengan tiga orang yang berhasil melarikan diri saat kontak senjata Senin petang kemarin. Dua di antaranya adalah diduga sebagai istri Santoso dan Basri. Satu lagi seorang pria membawa senjata laras panjang.

"Dua perempuan itu diduga istri Santoso dan istrinya Basri," kata Rudy.

Kata Rudy, Basri juga adalah salah satu tokoh dalam kelompok tersebut. Ia menjelaskan, dari 21 yang tersisa dari kelompok ini, sebenarnya terpecah dua, yakni ada tim lima dan tim 16. Tim lima ini, terdiri dari Santoso dan Basri, serta tiga orang yang berhasil kabur, yakni dua perempuan sebagai istri Santoso dan Basri, dan seorang pria.

"Ada kelompok pertama 16 orang yang dipimpin oleh Ali Kalora. Ada kelompok lima orang dipimpin oleh Santoso dan Basri. Yang lima orang ini ada istrinya Santoso dan istrinya Basri, serta satu laki-laki lain. Di kelompok yang 16, ada Ali Kalora yang memang bersama istrinya. Sisanya laki-laki," jelas Rudy.

Seperti diketahui, dua orang tewas dalam baku tembak dengan pasukan Operasi Tinombala 2016 di Poso, pada Senin, 18 Juli 2016, sekitar pukul 18.30 WIB. Saat penyergapan, jumlah mereka lima orang dan mengakibatkan dua orang meninggal dunia.

Sementara itu, tiga orang lainnya melarikan diri yang terdiri dari dua orang wanita dan satu laki-laki dan membawa satu pucuk senjata.  

Saat ini jasad yang diduga gembong teroris Mujahidin Indonesia (MIT) Santoso alias Abu Wardah bersama satu orang anggotanya, diduga bernama Basri, sudah berhasil dievakuasi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah, untuk dilakukan identifikasi. (ase)