Eks Lokalisasi Dolly Masih Beroperasi

Dua tersangka muncikari di lokalisasi Dolly
Sumber :
  • VIVA.co.id/Januar Adi Sagita

VIVA.co.id - Meski sejak tahun 2014 lalu lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Dolly, sudah ditutup oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini atau Risma, namun hingga saat ini masih terdapat aktivitas prostitusi di tempat itu.

Bahkan, kini para pelakunya menutupi bisnis kotor itu dengan persewaan tempat indekos.

Buktinya, baru-baru ini Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polrestabes Surabaya mengamankan 7 orang di lokasi itu. Mereka merupakan para pria hidung belang, PSK, serta muncikari.

Dari ketujuh orang itu, polisi menetapkan 2 orang sebagai tersangka. Di antaranya HR (46) warga Jalan Kupang Jaya, Surabaya, dan GD (38), warga Jalan Putat Jaya, Surabaya.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Silitonga mengatakan, keduanya ditetapkan sebagai tersangka karena berstatus sebagai muncikari. Biasanya mereka menjual para PSK dengan harga Rp300 ribu hingga Rp350 ribu.

“Jadi sistemnya itu muncikarinya dapat Rp100 ribu, lalu PSK-nya dapat Rp150 ribu, sedangkan sisanya untuk sewa kamar kos,” kata Shinto di Mapolrestabes Surabaya, Selasa, 26 Juli 2016.

Shinto menambahkan, para tersangka sengaja menggunakan bisnis sewa kamar kos sebagai kedok. Tujuannya, agar bisnis yang sebenarnya, yaitu prostitusi tidak mudah diketahui oleh polisi.

“Karena memang sudah sejak lama Dolly ditutup, makanya mereka pun mengakalinya dengan seolah-olah bisnis kos-kosan, padahal bisnis prostitusi.”

(mus)