DPR: Pengedar Narkoba Merasa Aman Jika Kenal Aparat

Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan pimpinan Djan Faridz, Achmad Dimyati Natakusumah.
Sumber :
  • Antara/ Widodo S Jusuf
VIVA.co.id
- Anggota Komisi I DPR Dimyati Natakusumah prihatin mendengar informasi adanya jaringan pengedar narkoba di lingkungan aparat keamanan. Hal ini menanggapi pengakuan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Haris Azhar, yang mengungkap pengakuan terpidana mati Freddy Budiman mengenai pengalamannya sebagai pengedar.

Bagi Dimyati, pengedar narkoba pantas merasa aman ketika dia bermain dengan pihak yang mempunyai jabatan, terutama di lembaga penegak hukum atau keamanan negara.

"Nah ini kita melihat di pengedar narkoba ini, industri narkoba ini merasa lebih aman di wilayah sebutnya kolong (di bawah pejabat). Kalau di tempat biasanya kan gampang digerebek polisi, kalau di sana kan seolah-olah polisi enggak berani," kata Dimyati di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 1 Agustus 2016.

Dimyati setuju dengan penerapan hukuman mati pada pengedar narkoba. Namun, dia tak habis pikir, alasan peredaran narkoba tetap marak di Indonesia, walaupun sudah tiga kali gelombang eksekusi mati dilakukan pemerintah.

"Ini kan ada bandar yang besar yang tidak tersentuh. Ini yang harus Presiden lakukan, cari siapa sih, kan bisa dideteksi sana sini. Harus segera ditindak, saya yakin polisi TNI sudah tahu," kata Dimyati.

Dimyati pun curiga salah satu cara industri narkoba di Indonesia bisa subur, adalah karena adanya perlindungan dari oknum yang memiliki jabatan tinggi di lembaga negara, terutama penegak hukum dan TNI.

"Saya gini ya, ada oknum jenderal, lambat laun juga akan tahu. Mudah-mudahan pak Buwas (Budi Waseso) fokus memberantas itu. Tapi itu tadi, kalau oknum TNI-Polisi ngeri-ngeri sedap," ujar Dimyati.