Penyebab Banjir Bandang Garut Menurut Menteri Agraria

Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

VIVA.co.id - Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil, menyebut satu penyebab bencana banjir bandang di Kabupaten Garut dan longsor di Sumedang adalah hilangnya fungsi hutan. Menurutnya, kini banyak hutan yang sudah menjadi gundul.

"Padahal memotong pohon di hutan secara sembarangan itu tidak boleh," kata Menteri Sofyan kepada wartawan di Surabaya pada Senin, 26 September 2016.

Penataan kawasan yang rawan bencana, kata Menteri, harus segera dimantapkan agar daerah itu memiliki solusi pasti atas bencana yang selama ini terjadi. "Kalau seperti itu, maka fungsi hutan sebagai pelindung tidak akan hilang," ujarnya.

Upaya itu tentu tidak akan terwujud jika tanpa partisipasi masyarakat. Menteri menilai partisipasi masyarakat berperan besar dalam menjaga agar tidak terjadi bencana.

Dia meyakini persoalan bencana longsor dan banjir yang selama ini selalu terjadi saat musim hujan bisa diselesaikan. Maka kelestarian alam pun bisa terjaga dengan baik.

"Karena ini memang untuk keselamatan bersama. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, masyarakat sebagai pendukung di sisi lain," kata Sofyan.

Bencana alam melanda dua kabupaten di Jawa Barat, yakni Garut dan Sumedang, pada Selasa tengah malam, 20 September 2016. Tujuh kecamatan diterjang banjir bandang di Garut dan lima dusun pada satu desa di Sumedang terdampak tanah longsor. 

Sebanyak 33 korban meninggal dunia ditemukan dan 20 orang dilaporkan masih hilang akibat banjir Bandang di Garut per Senin, 26 September 2016. 

Longsor di Sumedang menyebabkan lima orang tewas, dua warga luka, dan seorang masih hilang. Sedikitnya 259 kepala keluarga atau sebanyak 959 jiwa korban longsor Sumedang diungsikan di Gelanggang Olahraga Tajimalela di kabupaten setempat. (ase)