Pakar Pemilu: Modal Popularitas Itu Pembunuhan Karakter

Contoh surat suara (ilustrasi)
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

VIVA.co.id – Akademisi dan pakar otonomi daerah dan pemilu, Ryaas Rasyid berpendapat, pemilu di Indonesia sampai saat ini masih kerap mengedepankan aspek popularitas semata. Menurut dia, hanya mengandalkan popularitas saja berarti menjadi serangan balik yang tidak menguntungkan politikus.

“Popularitas itu pembunuhan karakakter. Idola itu kan memberhalakan orang, sementara kalau jadi anggota DPR atau presiden kan bukan hanya soal itu. Tapi harus mengurus rakyat dan kepentingan negara," kata Ryaas dalam sebuah diskusi di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Selasa, 6 Desember 2016.

Ryaas Rasyid mengatakan, terpilihnya seseorang dalam pemilu yang hanya berdasarkan popularitas semata, kerap mengesampingkan kualitas dari para pemimpin atau perwakilan rakyat.

Jika sudah demikian, maka hal itu tentunya juga akan berpengaruh pada kinerja orang tersebut. Karena, menurut Ryaas, kualitas politikus sebenarnya kerap tidak memadai untuk menjadi pemimpin, baik dia itu presiden, kepala daerah, atau bahkan anggota DPR.

"Dulu zaman Soeharto itu diskusi di DPR masih lebih bermutu tinggi dibanding sekarang. Karena orang-orangnya masih bisa dikatakan hebat. Saya pengalaman lima tahun di DPR, dan saya enggak mau lagi. Karena lama-lama saya jadi goblok di situ. Semua masalah ujung-ujungnya jadi voting," kata Ryaas.

Untuk itu, Ryaas mengharapkan bagaimana DPR diisi oleh para negarawan, sehingga produk undang-undang yang dihasilkan menjadi jadi lebih bermutu. (ase)