Jokowi Tak Ingin Masalah Pos Perbatasan Disepelekan

Presiden RI Joko Widodo meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Atambua NTT
Sumber :
  • Ist

VIVA.co.id – Presiden RI Joko Widodo meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Motaain, Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur, Rabu 28 Desember 2016. Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan bahwa dulunya ia sangat malu dengan kondisi PLBN tersebut.

"Saya betul-betul sangat malu, kantornya dengan kantor kelurahan saja lebih bagus kantor kelurahan. Saya masuk di dalamnya meja kursinya kayak. Ah, saya mau ngomong apa jadi bingung. Yang saya omongkan jelek semuanya," kata Jokowi di lokasi.

Alhasil ia pun menginstruksikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono segera merubah wajah salah satu perbatasan Indonesia dengan negara tetangga tersebut.

"Perintah saya ke menteri PU singkat, jelas, saya minta (PLBN Indonesia) lebih baik dari yang di sana (Timor Leste). Itu yang saya minta, yang di Entikong juga sama, saya minta lebih bagus dari sana (Malaysia)," kata Jokowi.

Namun kini, hal tersebut telah berubah. Ia pun menyampaikan pujiannya usai PLBN Indonesia-Timor Leste itu menjadi megah.

"Tapi setelah jadi terlalu baik dari yang di sana (Timor Leste), terlalu megah dan terlalu baik," ungkap mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Jokowi sejatinya memberikan tenggat waktu selama 2 tahun untuk pembangunan PLBN tersebut. Tapi belum genap dua tahun, PLBN Motaain telah jadi sejak peletakan batu pertama yang dilakukan pada November tahun 2015 lalu.

Total, anggaran yang dihabiskan untuk membangun PLBN tersebut mencapai Rp82 miliar.

"Saya beri waktu ke menteri PU 2 tahun pos lintasnya harus selesai jangan diundur. Karena malunya terlalu lama jika diundur-undur. Kita bisa melakukan, kita bisa membangun, kita juga punya negara," kata Jokowi.

Wajah Indonesia

Pada kesempatan itu, Jokowi juga mengaku tak ingin masalah Pos Perbatasan Indonesia dengan negara tetangga dianggap sepele. Alasannnya, perbatasan adalah masalah kebanggaan dan wajah Indonesia. "Bukan hanya soal wajah Nusa Tenggara Timur, tapi wajah Indonesia," ujarnya.

Ia pun kembali menegaskan, bahwa masalah PLBN adalah masalah nasionalisme, masalah harkat martabat sebagai bangsa besar yang sering dilupakan oleh banyak orang.

"Sekali lagi ini wajah kita, masalah kebanggaan, masalah nasionalisme, masalah harga diri, masalah martabat sebagai bangsa yang besar. Kita lupa hal-hal seperti itu, buat saya tidak," kata dia.

Jokowi menyatakan pemerintah sebenarnya sangat mampu untuk mempercantik semua perbatasan Indonesia dengan negara tetangga. Sebab, pemerintah memiliki anggaran untuk hal tersebut. "Kalau hanya membangun-membangun Rp100-200 miliar punya," kata Jokowi.

Namun, fisik PLBN yang bagus saja tak cukup. Karena itu, Jokowi menambahkan, peningkatan pelayanan birokasi seperti imigrasi dan beacukai di perbatasan juga mutlak harus dihadirkan kepada masyarakat serta bebas dari pungutan liar (pungli).

"Semua harus betul-betul melayani rakyat dengan baik. Siapapun yang melintas layani dengan baik. Saya minta kecepatan pelayanan, perbaikan pelayanan harus berubah, bukan hanya fisiknya, tapi pelayananya juga harus diperbaiki," imbuhnya

"Karena di sini ada wajah kita, identitas kita. Jangan sampai ada lagi pungutan liar, hati-hati saya sudah bilang, sudah ngomong seperti ini hati-hati," tegas Jokowi.