Seba Baduy dan Ajimat Puasa Kawula

Suku Baduy di Pendopo Lama Gubernur Banten mengikuti prosesi Seba Baduy.
Sumber :
  • Yandhi Deslatama

VIVA.co.id – Menerobos hutan, mendaki gunung, menyeberangi sungai dan keluar masuk perkampungan kurang lebih sejauh 90 kilometer dilalui oleh Suku Baduy Dalam. Mereka berjalan tanpa alas kaki, untuk bersilaturahmi dengan Bapak Gede atau Gubernur Banten untuk menyerahkan hasil bumi dan Laksa, makanan khas yang hanya dibuat setahun sekali melalui proses puasa selama tiga bulan, atau yang biasa disebut Puasa Kawalu.

Dari kampung halaman yang berlokasi di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, ratusan anggota Suku Baduy Dalam rela menempuh perjalanan panjang guna menyerahkan Laksa. Ini makanan “ajimat” sebagai simbol eratnya tali silaturahmi dan penghormatan kepada Abah Gede.
 
"Sebuah makanan yang diolah dari padi pilihan yang dibuat dengan proses adat dengan berpuasa selama tiga bulan. Puasa Kawalu," kata Eneng Nurcahyati, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banten, yang ditemui disela-sela prosesi Seba Baduy, di Pendopo Lama Gubernur Banten.
 
Suku Baduy Dalam berjalan kaki sembari membopong hasil bumi yang diperoleh dari hutan dan tanah garapannya. Seluruh barang bawaan itu diberikan kepada gubernur Banten dengan makna bahwa alam telah memberikan segala kebutuhan manusia dengan cuma-cuma. Namun sebagai timbal baliknya, manusia haruslah menjaga dengan baik kelestarian lingkungan.