Bantah Anti-China, JK Serukan Masyarakat Indonesia Bersatu

Wapres Jusuf Kalla
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

VIVA.co.id – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui sudah ada riak-riak yang mengarah pada upaya memecah belah bangsa Indonesia. Riak itu muncul selama Pilkada DKI Jakarta 2017, dan puncaknya ketika Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ditahan karena kasus penodaan agama. Warga pendukung Ahok turun ke jalan menggelar aksi.

"Ya saya tidak berharap ada disintegrasi. Cuma riaknya sudah bisa terjadi," ujar Wapres JK di rumah dinasnya,  Jalan Diponegoro, Menteng Jakarta Pusat, Senin 15 Mei 2017.

Menurut JK, perlu diatur lagi energi bangsa untuk kembali bersatu. Sebab, persoalan awal masalah pilkada DKI Jakarta sudah selesai. Yang menang harus mendapat selamat dan yang kalah juga tetap harus dihormati.

"Dan juga seluruh masyarakat bersatu, lupakan perbedaan agama, suku, bangsa. Mari kita kembali bersatulah," imbau JK.

JK meminta semua pihak ingin negara Indonesia maju. Yakni dengan persatuan, dan tidak saling curiga. "Kalau saling kita perpanjang, tidak akan pernah habis," ujar JK.

Pada kesempatan itu, JK turut menanggapi tuduhan sejumlah kalangan yang menyebutnya rasial. Isu ini mencuat setelah publik tahu, JK mendorong Anies Baswedan untuk dicalonkan di Pilkada DKI.

Tudingan itu juga ramai diperbincangkan di dunia maya. Hanya JK enggan menanggapi serius tudingan itu. "Kita tak tahu juga dan tak peduli juga," kata JK.

Bagi JK, tudingan rasial dan tidak suka etnis tertentu, sangat tidak beralasan. Sebab dalam pergaulannya, etnis China adalah rekannya juga. "Di Makassar itu China-China teman saya," ujar JK.

Tidak rasialnya JK juga terlihat dari orang-orang di sekelilingnya. Beberapa orang dekat JK, juga berasal dari etnis China.

"Orang teman paling dekat saya China juga, itu Sofyan (Sofyan Wanandi, Staf Ahli Jusuf Kalla), ke mana-mana,  pagi sore malam, sama saya semua," kata JK.