Unik, Warga Grobogan Punya Sumur 'Ajaib' Penghasil Garam

Warga Desa Jono, Kabupaten Grobogan bertani garam dari sumur di ladang mereka.
Sumber :
  • VIVA/Dwi Royanto

VIVA.co.id – Aktivitas bertani garam biasanya dilakukan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai. Namun sebaliknya, warga di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, justru mampu memproduksi garam di ladang yang justru jauh dari laut.

Uniknya, aktivitas bertani garam di Desa Jono ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Warga memproduksi garam lewat sejumlah sumur “ajaib” di salah satu lahan desa mereka. Sumur-sumur itu mengandung banyak mineral untuk dibuat garam.

Tidak diketahui pasti alasan sumur itu terasa asin. Padahal, secara logika, geografis wilayah di Kabupaten Grobogan dikenal kering dan jauh dari laut.

Sukardi (52 tahun), salah satu petani garam, mengatakan Desa Jono memang sudah dikenal lama sebagai Kota Garam di Grobogan. Ada delapan sumur yang dimanfaatkan warga di satu lokasi itu hingga mampu memproduksi garam seberat puluhan kuintal dalam satu masa panen.

Warga biasanya menimba air di sumur itu lalu dialirkan ke dalam potongan bambu melalui keran. Potongan-potongan bambu yang terisi air itu lalu dijemur selama 10 hari hingga garam siap dipanen dan siap jual.

"Fenomena langka ini menjadikan garam produksi Desa Jono memiliki rasa khas. Rasanya asin dan ada gurihnya," kata Sukardi, Rabu, 2 Agustus 2017.

Terkait keunikan adanya garam di wilayahnya, warga Desa Jono meyakini bahwa berkah alam berupa sumber air kaya mineral itu berasal dari jejak pergerakan makhluk mitologis, yakni seekor naga yang bernama Joko Linglung.

Konon cerita, naga tersebut menyembul ke permukaan kemudian menjadi sumber mata air. Legenda tersebut hingga kini masih dipegang warga. Bahkan ada dua sumber mata air (belik) bernama Nganten dan Blarak juga dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.

"Belik itu airnya panas sekitar 70 derajat celsius. Kami percaya air ini berasal dari Pantai Selatan melalui naga Joko Linglung itu," ujarnya.

Butuh Teknologi

Pada era tahun 1980 hingga 1990-an, lanjut dia, masih ada ratusan orang yang menjadi petani garam. Namun saat ini, jumlahnya hanya kisaran 60 orang saja. Mengingat generasi muda kampungnya banyak yang memilih bekerja di luar kota.

Ketua Kelompok Tani Garam Tirta Manunggal, Suhadi, menambahkan garam 'Jono' biasanya dipasarkan ke sejumlah daerah, seperti Semarang, Pati, Kudus, Surakarta, dan Yogyakarta. Garam itu dipatok seharga Rp7 ribu per kilogram di tingkat petani.

“Harga sekarang sangat menyenangkan. Sejak beberapa bulan terakhir harga di tingkat petani tujuh ribu per kilogram, sedangkan di tingkat pedagang sepuluh ribu. Untuk hasil panen sekitar 0,5 kuintal per minggu, dengan catatan cuaca cerah,” ujar Suhadi.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang meninjau pembuatan garam di Desa Jono, mengatakan garam yang berbahan dasar air asin dari sumur di tengah ladang itu  berpotensi menjadi sentra garam dengan produksi tinggi. Apalagi saat ini pasokan garam konsumsi nasional mengalami kelangkaan.

“Problemnya sekarang mereka butuh bantuan. Karena di sini teknologinya sangat sederhana dan serba tradisional. Maka saya minta kelompok tani yang berjumlah 60 orang produksinya bisa ditingkatkan,” kata Gubernur.

Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk mendongkrak produktivitas dan pemasaran garam Jono dengan meningkatkan teknologi, proses pengolahan serta mengubah kemasan garam.

“Saat ini mereka mengambil air dengan menimba. Terbayang tidak suatu ketika disedot dengan mesin kemudian langsung disalurkan ke bambu-bambu dengan dibuatkan mekanisasi yang bagus dan selebihnya tergantung cuaca,” beber Ganjar. (ase)