Kisah Orang Terakhir yang Hadapi Gunung Agung jika Meletus

Kondisi Gunung Agung usai naik status jadi awas.
Sumber :
  • REUTERS/Darren Whiteside

VIVA – Hujan belum berhenti membasahi sekitaran Gunung Agung. Segelas kopi hitam menemani suasana dingin sore itu di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. 

Sesekali ia bercanda gurau. Namun, air mukanya berubah tegang tatkala bunyi petir menggelegar tepat di kawah Gunung Agung yang tertutup kabut. Secepat kilat ia sambar smartphone yang tergeletak di sampingnya.

Ia pantau grafik pergerakan magma gunung setinggi 3.142 mdpl tersebut. Sejurus kemudian, raut wajahnya kembali tenang. "Tidak apa-apa, aman," kata pria bernama Devy Kamil Syahbana saat berbincang dengan VIVA.co.id, Kamis 19 Oktober 2017. 

Devy merupakan ketua Tim Tanggap Bencana Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Di institusi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu, ia menjabat sebagai kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur.

Devy pula yang menganalisis dan membuat laporan perkembangan aktivitas terkini gunung yang terletak di Kabupaten Karangasem itu.

Pria kelahiran Bandung 18 Februari 1981 itu satu-satunya sosok peneliti PVMBG yang akan berhadapan langsung dengan Gunung Agung jika meletus. Memang sudah menjadi tugasnya melakukan assessment bahaya efek yang ditimbulkan Gunung Agung. 

"Misalnya Gunung Agung meletus. Dalam kondisi meletus itu kami tetap perlu melakukan assessment bahaya, karena bahaya itu bisa berubah kapan pun. Kalau misalnya sekarang luasnya radius 9 kilometer dengan sektoral 12 kilometer, dia bisa lebih dari itu atau kurang dari itu," papar Devy.

Jika nanti skenario bahaya dari hasil analisis mengalami perubahan, Devy mesti membuat laporan dengan cepat agar mendapat prioritas penanganan. 

"Ketika ternyata nanti skenarionya berubah, harus ada judgement kan. Artinya exped judgement itu harus ada, harus ada yang menilai, kira-kira nanti ini aktivitasnya membahayakan atau berpotensi lebih membesar lagi atau sebaliknya, justru mengecil. Itu tugas saya. Saya harus standby (di Pos Pengamatan Gunung Api Agung) untuk itu," kata dia.

FOTO: Devy Kamil Syahbana bersama wartawan.

Gunung Agung bisa meletus dua kali. Letusan pertama adalah letusan pembuka atau freatik. Letusan berikutnya lebih besar, yakni letusan magmatik. Jika pada letusan pembuka semua petugas PVMBG meninggalkan pos pengamatan, Devy menyebut maka akan membuat mereka buta terhadap data perkembangan Gunung Agung.

"Kalau misalnya dalam kondisi letusan pembuka, kalau kami langsung pergi, tentu nanti buta akan data-data. Tapi tentu kami juga lihat aspek keselamatan. Artinya, ketika letusannya sudah teramati, lalu ketinggiannya di atas 5 kilometer, ya kami lebih baik mundur dulu. Bukan karena apa, karena kami semua tidak ada yang tahan awan panas. Dan, kalau sudah ketinggian tertentu dan bisa mengamati, bentuk kerendahan hati kami dengan lari (menjauh dari Gunung Agung)," kata Devy.

Tak beranjak dari pos pengamatan meski nantinya Gunung Agung meletus bukan berarti Devy menantang bahaya. Ia pun melihat terlebih dahulu kekuatan letusan pembuka. Jika tak lebih besar dari yang diperkirakannya ia akan bertahan di sana dengan segala risiko yang mungkin dihadapinya.

"Beberapa orang harus koordinasikan. Tapi, saya harus tetap di sini, karena saya harus bertanggung jawab membuat analisis cepat, kira-kira potensi bahayanya seperti apa," katanya. 

Devy sadar akan risiko pekerjaannya. Batas bahaya dengan pekerjaannya kini disadarinya begitu tipis. Devy yang pernah terjun mengamati beberapa letusan gunung api seperti Gunung Merapi, Gunung Krakatau, Gunung Sinabung, dan Gunung Kelud itu bukan ingin berlagak jagoan lantaran tak beranjak meski bila Gunung Agung meletus.

"Kalau masalah risiko, kami kan bukan orang bodoh ya. Artinya begini, kami belajar gunung api itu bukan berarti jadi sok jago, begitu. Kami tahu batas bahaya. Walaupun memang kadang bahaya itu tipis dengan pekerjaan kami, karena kadang kami harus melakukan instalasi peralatan di gunung yang sebetulnya sedang meletus," katanya.

"Tapi mau tidak mau itu harus kami lakukan. Tapi tentunya dengan kalkukasi-kalkulasi yang terbaik. Jangan sampai kami melakukan kebodohan juga. Jangan sampai kami sudah berisiko, melupakan aspek safety. Aspek safety itu selalu kami kedepankan. Walaupun memang dalam pekerjaan di gunung api ini risikonya besar, tapi ini pilihan kami," dia menambahkan.

FOTO: Devy di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Desa Rendang, Karangasem, Bali

Suami Dian Indriana itu mengaku akan mendapatkan kebahagiaan tak terhingga jika dapat menyelamatkan nyawa orang banyak ketika terjadi bencana gunung api. 

"Kebahagiaan kami itu kalau bisa sampai menyelamatkan orang itu wah, tidak bisa dinilai lah. Silakan tanya sama teman-teman yang lain deh, bagaimana kalau kami bisa menyelamatkan warga itu perasaan sangat luar biasa. Bukan kami jadi sombong, tapi ada perasaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Itu kepuasan batin yang luar biasa," ucap dia.

Bagi PVMBG, ayah dari putri bernama Melody Ismail Syahbana itu, aspek safety first merupakan hal utama. Bukan untuk kepentingan lembaganya semata, namun hal itu dilakukan untuk kepentingan masyarakat banyak, utamanya mereka yang tinggal di sekitar Gunung Agung. 

"Seperti misalnya sekarang, letusan belum terjadi, tapi kenapa warga sudah harus diungsikan. Kalau kami menunggu letusan dulu terjadi, safety first-nya di mana. Jadi, itu lah gunanya mitigasi," tuturnya.

Dalam mitigasi memang banyak risiko yang ditempuh. Salah satunya adalah lamanya warga dengan ketidakpastian apakah Gunung Agung akan meletus atau tidak. Bisa saja PVMBG akan mengeluarkan rekomendasi mengungsikan warga setelah gempa tremor menerus menghantam Gunung Agung. Biasanya, gempa tremor menerus merupakan pertanda akhir sebelum terjadinya letusan. 

"Kalau misalnya kami ingin dinilai luar biasa hebat, kami bisa nanti menunggu tremor menerus keluar. Ketika tremor menerus keluar, lalu kami rekomendasikan warga dievakuasi. Kalau dari tremor menerus sampai ke letusan itu kan singkat sekali. Bisa jadi beberapa puluh menit, bisa jadi juga berjam-jam baru terjadi letusan. Tapi, dengan melakukan seperti itu kami memang aman. Tapi kami menaruh risiko untuk masyarakat luas," kata pria lulusan doktoral dari Brussel, Belgia tersebut.

Devy tak mau hal itu terjadi. PVMBG, kata Devy, lebih memilih memikul risiko di pundak mereka. "Dalam hal Gunung Agung ini, dengan kondisi kami belum memahami karakter gunung ini, kami dihadapi dengan dua pilihan. Apakah akan menaruh risiko untuk masyarakat atau risiko untuk kami? Kami lebih memilih menaruh risiko itu di pundak kami," katanya mengulas.

Bagi dia, lebih baik salah, dalam pengertian Gunung Agung tak jadi meletus, namun semua warga selamat. "Daripada gunungnya meletus, tapi ada korban. Itu sudah jadi nilai dasar kami. Yang paling penting kami dalam mengambil keputusan ini bukannya nujum, tapi kami melihat dari berbagai aspek, dari data-data pengamatan. Bukan dari satu hal yang tidak kami pahami," kata Devy yang sudah berada di Bali sejak 18 September 2017.

FOTO: Devy Kamil Syahbana bersama istrinya.

Sejak berada di Bali, Devy belum pernah pulang ke rumahnya di Bandung. Tentu rindu selalu muncul di sela pekerjaannya. Namun, ia harus menepis dulu hal itu sebelum Gunung Agung menentukan aktivitasnya, meletus atau tidak.

"Saya belum pernah pulang (ke rumah). Tidak apa-apa itu risiko tugas. Tapi yang terpenting kan keluarga saya sabar. Mereka sudah mau menerima risiko pekerjaan saya, itu sudah luar biasa. Saya beruntung saja punya istri dan anak bukan tipe mengeluh, tidak suka cari masalah," ucap Devy.

"Selama ini mereka mengerti karena mereka tahu kalau yang saya kerjakan itu niatnya baik. Yang paling penting itu, kami niatnya baik, tujuannya baik, tidak ada niat yang macam-macam atau tujuan yang aneh-aneh," katanya melanjutkan. 

Di Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Devy lah sosok terakhir yang kembali ke penginapan paling akhir dari rekan-rekannya. Ia tak berani meninggalkan pos pengamatan dalam situasi Gunung Agung berstatus awas di jam-jam penting. 

"Saya biasanya pulang dari sini kan dinihari pukul 02.00 Wita atau pukul 03.00 Wita. Jam sebegitu kan waktu-waktu kalau terjadi sesuatu kami bisa bergerak cepat. Saya juga butuh istirahat," ujarnya menceritakan.

Meski kembali ke penginapan dinihari, pagi-pagi buta Devy sudah kembali lagi ke pos pengamatan. "Pagi saya ke sini lagi. Jam 07.00 Wita itu sudah di sini. Saya bangun pagi sih pasti selalu di bawah pukul 06.30 Wita, karena setiap pagi saya harus bikin laporan. Bukan hanya Gunung Agung saja, tapi gunung api se-Indonesia yang statusnya di atas normal," kata Devy.

"Saya harus buat laporan rutin tiap pagi dan harus sudah terkirim itu pukul 05.30 Wita. Jadi mau tidur jam berapa pun, jam segitu saya harus sudah bangun. Selama tugas saja, rata-rata saya tidur sehari dua sampai tiga jam sehari. Kalau di Bandung saya masih bisa tidur enam jam. Dinikmati saja. Untungnya, Alhamdulillah-nya masih dikasih kesehatan. Walau bagaimana jangan sampai sakit dulu lah," katanya lagi.

Devy bukan tak rindu pada keluarga. Apalagi anak semata wayangnya baru berusia tiga tahun. Ia melepas rindu melalui saluran telepon. 

"Sekarang ada Whatsapp, masih bisa video call. Untungnya mereka (anak dan istri) mau menunggu saya. Jadi saya suka bilang kalau siang jangan telepon saya, saya kerja dulu biar bisa konsentrasi. Mereka tidak pernah telepon siang. Dan, istri saya sangat mengerti itu. Saya juga sampai bingung, kok dia bisa sabar begitu," kata Devy yang mendapat beasiswa penelitian Post Doctoral di Jerman pada 2013-2014 itu.