Sebar Pamflet Hoax Khofifah, Kakak Cak Imin Diperkarakan

Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah.
Sumber :
  • dok.ist

VIVA – Tensi politik menjelang Pemilihan Gubernur Jawa Timur memanas. Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa Jatim, Abdul Halim Iskandar diperkarakan mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Aan Ainur Rofik, gara-gara diduga menyebar pamflet palsu alias hoax soal Kementerian Sosial kala menterinya Khofifah Indar Parawansa.

Pamflet yang dipersoalkan Aan diunggah Halim di sebuah grup aplikasi WhatsApp dengan anggota tokoh politik Jatim pada Minggu, 14 Januari 2018. Isi pamflet ialah informasi adanya rencana aksi oleh Aliansa Mahasiswa DKI Jakarta pada 15 Januari 2018. Dalam pamflet tertulis besar-besar Proyek KKS Pesta Para Tikus. Foto Khofifah memegang kartu KKS terpampang di pamflet itu.

Halim melempar gambar pamflet itu sekira pukul 17.55 WIB. Tidak ada keterangan apapun dituliskan kakak dari Ketua Umum PKB, A Muhaimin Iskandar itu di pamflet yang disebar. Baru setelah dikomentari anggota grup, Halim menuliskan pesan 'Hoax' di gambar pamflet yang telanjur terunggah.

Pamflet itu rupanya memang palsu. Di hari yang ditentukan tidak ada aksi seperti diinformasikan pamflet tersebut.

"Saya membaca, siapa yang men-share itu, saya lihat ada nama Halim Iskandar. Siapa itu? Saya tidak tahu. Kemudian ini saya capture, saya kaitkan dengan Undang-Undag ITE," katanya kepada wartawan di Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis, 18 Januari 2018.

Pendukung paslon Cagub-Cawagub Jatim Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak itu menduga, nama Halim Iskandar yang mengunggah pamflet provokatif itu ialah Ketua DPRD Jatim yang juga Ketua PKB provinsi setempat. Karena itu dia akan melaporkan itu ke Badan Kehormatan DPRD. "Setelah salat Jumat besok kita ke DPRD Jatim," ucapnya.

Selain ke Badan Kehormatan, Aan bersama tim juga berencana melaporkan hal itu ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur. Menurutnya, unggahan tersebut sudah melanggar UU ITE. "Apalagi ini kan sebenarnya objeknya di Jakarta, tidak ada kaitannya dengan yang ada Jawa Timur. Biar ini (menjadi) imbauan kepada tim sukses dan pendukung, kata advokat itu.

Terpisah, Halim Iskandar mengatakan bahwa sebetulnya ia ingin menuliskan kata 'hoax' pada pamflet yang disebarkannya secara bersamaan. Sebab, sebelum dirinya, ada anggota grup yang pertama kali menyebarkan pamflet serupa. Mengaku gagap teknologi, yang tersebar justru gambar pamfletnya saja, tidak ada tulisan 'hoax'-nya.

"Baru dua jam kemudian saya sadar kalau yang muncul cuma fotonya saja, tulisannya tidak ada, makanya saya kemudian menulis kata 'hoax' setelah itu. Sebenarnya untuk mengingatkan pada yang menyebarkan pamflet pertama kali," ujar Halim saat dihubungi VIVA.

Halim mengaku sebelumnya tidak mengetahui adanya pamflet itu tersebar di grup WA lain maupun di medsos. Justru dia baru tahu setelah ada yang melempar pamflet tersebut dan coba mengingatkan bahwa itu hoax. Dia mengaku sudah meminta maaf dan berharap masalah selesai. "Saya sudah minta maaf ke semua anggota grup," ucapnya.

Memang, suasana politik Jatim mulai memanas setelah dua paslon Pilgub Jatim mendaftar di KPU beberapa waktu lalu. Dua paslon itu ialah Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak (Demokrat, Golkar, Hanura, Nasdem, PAN, PPP, dan PKPI) melawan Saifullah Yusuf alias Gus Ipul-Puti Guntur (PKB, PDIP, Gerindra, dan PKS).