Peneliti Ungkap Generasi Milenial Cuek dengan Politik

Ilustrasi pemilu.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

VIVA – Karakter kalangan muda atau milenial tak tertarik pada pemberitaan politik. Fenomena itu dianggap mengkhawatirkan, terlebih tahun depan merupakan proses pemilu yang dilakukan serentak.

Hal itu dikemukakan CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali saat ditemui dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu, 20 Oktober 2018.

Menurut dia, milenial mesti melek pada pemberitaan politik mengingat perlu mengetahui siapa yang akan dipilih dan mengundang partisipasi pemilih.

"Nah celakanya dalam konteks politik, generasi ini rada cuek dengan politik. Survei terbaru hanya 22 persen anak-anak milenial yang mengikuti pemberitaan politik," kata Hasanuddin.

Hasuddin mengatakan, klasifikasi milenial dihitung sejak usia 21-35 tahun. Jika dikonversi sebagai pemilih, usia di rentang waktu tersebut meguasai 45 suara secara nasional.

Dari survei yang ia temukan, kalangan milenial tak suka akan berita politik lantaran dianggap informasi-informasi tersebut sudah dicap untuk urusan orang tua saja.

"Mereka lebih banyak mengikuti berita seputar olahraga, musik, film, lifestyle, media sosial kemudian IT," ujarnya.

Hasanuddin melanjutkan, fenomena ini harus dijadikan cambuk oleh sejumlah pihak, termasuk partai politik. Isu-isu politik perlu dibungkus secara ringan untuk menarik minat milenial.

Ia melihat sudah ada tren positif banyak kalangan muda mengisi posisi penting di pemerintahan, parlemen dan top manajemen perusahaan start up, meski jumlahnya tak banyak. 

"Kalau tidak bisa menyiapkan dari sekarang, kita akan melewatkan zaman keemasan kita. Pemilu 2019 ini penting bagi keberlangsungan milenial, terutama 25 tahun ke depannya," katanya.