Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Minggu, 7 Juni 2020 | 16:31 WIB

Saiq Aqil: Wajah Bopeng Demokrasi AS Tidak Patut Ditiru

Team VIVA »
Hardani Triyoga
Syaefullah
Foto :
  • ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj

VIVA – Amerika Serikat tengah disorot dunia internasional karena gejolak demonstrasi yang meluas atas kematian pria kulit hitam, George Floyd. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menilai demokrasi AS saat ini tengah sekarat.

Said mengatakan demikian karena selama ini negeri Paman Sam itu selalu tampil bak polisi demokrasi dunia.

Baca Juga

"Kampanye hitam Trump di musim kampanye Pilpres AS yang rasis menunjukkan sentimen negatif terhadap imigran kulit warna dan kaum Muslim, telah menabung bara api yang meledak dalam kerusuhan rasial sekarang," kata Said Aqil dalam video yang diunggah akun Instagram @saidaqilsiroj53 yang dikutip VIVAnews pada Minggu, 7 Juni 2020.

Baca Juga: Goerge Floyd Terungkap Positif Corona dari Hasil Autopsi

Said menyinggung demokrasi AS yang sekarat karena menghasilkan pemimpin konservatif ke titik anti-klimaks dengan retorika politik liberal. 

Menurutnya, ada perubahan haluan yang drastis dari Presiden AS sebelumnya yang diusung Partai Demokrat yaitu Barack Obama ke Donald Trump yang diusung Partai Republik. Ia bilang hal ini menunjukkan pondasi demokrasi AS tak sekokoh seperti yang didengung-dengungkan.

Diskriminasi rasial dan kesenjangan ekonomi jadi cacat bawaan seperti disinggung tokoh peraih nobel asal Swedia Gunnar Myrdal pada 1944. Kritik Gunnar dituangkan dalam bukunya berjudul An American Dilemma. Merujuk buku itu, demokrasi AS akan terus dihantui pertarungan abadi antara ide persamaan hak dan prasangka rasial.

Menurut Said, keyakinan Myrdal pada akhirnya demokrasi akan menang atas rasisme tidak terbukti sampai sekarang. Diskriminasi atas warga keturunan Afrika-Amerika telah memicu kerusuhan rasial yang terus berulang hingga 11 kali dalam setengah abad sejak 1965.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Iran Mengamuk, Pangeran Harry Keluar dan Wahyu Setiawan
BERITA - 7 bulan lalu
Terpopuler