PDIP: Megawati dan Kartini Sama-sama Tahan Mental

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri kampanye di Pilkada Kepulauan Riau, di Batam, Minggu (29/1/2015).
Sumber :
  • ANTARA FOTO/M N Kanwa

VIVA.co.id – Ketua Bidang Kesehatan Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan, Sri Rahayu, mengatakan partainya menganggap pemikiran dan perjuangan Kartini relevan untuk diperjuangkan. Dalam memperingati Hari Kartini 2016, DPP PDI Perjuangan menegaskan langkah konkrit antara lain, mengurangi angka kematian ibu melahirkan, mencegah perkawinan usia dini, meningkatkan produktivitas kaum perempuan, dan peningkatan budidaya tanaman pangan lokal.

"Kartini memperjuangkan nasib perempuan yang saat itu tidak boleh bekerja, dinikahkan secara paksa dan usia dini. Kartini pun meninggal saat melahirkan, kondisi Ibu Meninggal saat Melahirkan masih sering terjadi. Sekarang ini Angka Kematian Ibu Melahirkan di Indonesia masih cukup tinggi. Oleh karena itu salah satu agenda PDI Perjuangan adalah memperjuangkan perbaikan kesehatan bagi perempuan dan rakyat umumnya," kata Sri Rahayu dalam keterangan pers, Kamis 21 April 2016.

Di bidang politik, PDI Perjuangan memberikan kesempatan perempuan seluas-luasnya untuk berkiprah di masyarakat atau di publik melalui partai politik baik dalam struktural  legislatif maupun eksekutif. Itu diamanatkan  dalam AD/ART pasal 20, dan pasal 101 hasil Kongres IV 2015.

"Kini kesempatan telah terbuka, perempuan harus percaya diri, ulet, mandiri, bermental kuat, tidak patah semangat, sehingga tidak terpengaruh untuk korupsi," ujarnya.

Kartini menunjukkan hal ini dengan melawan adat, padahal konseksensinya bisa berujung kematian. Penderitaan dihadapi menghalau rintangan perbaikan kondisi perempuan,  dikucilkan, bahkan dianggap perawan tua dilakoni Kartini.

Bahkan ketika harus menikah, ia ajukan berbagai syarat kepada calon suaminya, termasuk boleh mendirikan sekolah dan mengajar. Tak hanya itu, ia merelakan beasiswanya untuk Agus Salim, itulah salah satu semangat nasionalisme Kartini.

"Kini, saat kebebasan dan keterbukaan telah direngkuh perempuan, perjuangan belum selesai dan perempuan tidak boleh surut berjuang," ujarnya.

Hal ini, kata Sri, dicontohkan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, bahwa meskipun mengalami penghianatan dan rintangan tidak menyurutkan mental untuk terus berjuang dalam politik.

"Ibu Megawati tahan mental dalam tekanan politik Orde Baru sedangkan Kartini sejak usia belia sudah berjuang di bawah tekanan budaya saat itu. Kekuatan mental beliau berdua adalah teladan bagi semua kader, khususnya perempuan," ujarnya.

Sri menjelaskan, Bung Karno juga memberi penghargaan tinggi bagi perempuan sebagai warga negara dan perannya dalam mendukung perjuangan pergerakan kemerdekaan maupun pasca Indonesia Merdeka. Hal ini antara lain dituangkan dalam buku Sarinah yang terbit 1947, di mana Presiden Soekarno mendorong keikutsertaan perempuan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

"Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No.108 tahun 1964, Negara memberi gelar Pahlawan pada Kartini yang perjuangannya untuk bangsa Indonesia umumnya dan perempuan khususnya," ujar dia.

(ren)