Munaslub Golkar 'Damaikan' Dua Petinggi PPP yang Berselisih

Pembukaan Munaslub Golkar 2016
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ezra Natalyn

VIVA.co.id – Dua pimpinan Partai Persatuan Pembangunan, M Romahurmuziy alias Romi dan Djan Faridz datang di pembukaan Munaslub partai Golkar di Bali. Sama-sama berjaket hijau PPP, keduanya terlihat akrab bersalaman hingga berpelukan.

Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro berpendapat bahwa hal itu bagus untuk PPP.  Alasannya, keduanya sudah lama bertikai memperebutkan tampuk pimpinan tertinggi di partai berlambang Ka'bah tersebut.

"Menurut saya bagus. Soalnya partai-partai yang berfriksi itu sudah kehilangan banyak dukungan dari publik. Publik sudah bosan dengan friksi. Makanya itu sangat bagus," kata Siti di gedung Menara 165, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu 15 Mei 2016.

Siti berujar, dualisme kepengurusan yang terjadi dalam tubuh PPP tak boleh terjadi di partai politik lainnya. Pasalnya, Siti menilai bahwa hal itu adalah penyakit partai politik yang harus diobati agar tak menjalar ke partai politik lain.

"Jangan sampai kita membiarkan partai-partai politik seperti itu (bertikai) karena ini kan penyakit sebenarnya. Makanya saya setuju pak Jokowi tidak melakukan reshuffle sampai partai yang bertikai bisa berdamai," kata dia.

Siti menerangkan, dengan itu bukan berarti Presiden Joko Widodo melakukan intervensi tetapi itu justru mendorong pilar demokrasi tersebut bisa melakukan reformasi secara kongkrit. "Jadi asal tidak ada intervensi dari Presiden," tegasnya.

Karena itu dirinya berpendapat, dua pimpinan yang masih layaknya "Tom and Jerry" itu baiknya bisa disatu-padukan. Sebabnya, keduanya memang masih menjadi bagian keluarga besar PPP.

"Sebenarnya yang kurang kemauan politiknya dan kedewasaan politiknya saja.  Dulu Muktamar PPP Romi tidak dikuti oleh Djan Faridz, meski demikian tak mungkin Romi mengabaikan kekuatan Djan Faridz," ungkap Siti.

Seperti diketahui, keakraban kedua pimpinan PPP itu menjadi hal menarik dalam Munaslub Golkar yang digelar di Bali.  Alasannya, karena proses konflik kepemimpinan di partai berlambang Ka'ba itu masih mengemuka hingga sekarang.