Roy Suryo: Publik Mulai Realistis Lihat Kondisi Era Jokowi

Roy Suryo
Sumber :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id – Politikus Partai Demokrat, Roy Suryo, menilai wajar bila hasil survei The Centre for Strategic and International Studies (CSIS), mengungkap adanya peningkatan popularitas dari Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Menurut Roy, meningkatnya popularitas SBY itu karena publik sudah mulai realistis melihat kondisi di era Presiden Joko Widodo, juga soal janji-janji kampanye Jokowi saat Pilpres 2014.
 
"Karena sekarang ini masyarakat mulai bisa berpikir normal dan realistis. Meski masih banyak yang tertutup halusinasi dan janji-janji manis kampanye kemarin (Pilpres 2014)," kata Roy Suryo kepada VIVA.co.id, Rabu, 14 September 2016.
 
Ia melihat, kini masyarakat sudah mulai membanding-bandingkan pada era Presiden mana mereka merasa jauh lebih baik. Bahkan, lanjut dia, banyak juga yang membandingkan dengan era sebelumnya. Bagi mantan Menteri Pemuda dan Olahraga itu, apa yang dirasakan publik dengan membandingkan era Jokowi dan SBY, adalah wajar.
 
"Mulai terasa dan saling memperbandingkannya. Ini wajar. Sampai-sampai tidak hanya dengan Pak SBY, banyak juga yang memperbandingkan dengan zaman Pak Harto," katanya.
 
Menurut Roy, hasil survei CSIS ini harus bisa membuat pemerintah Jokowi-JK melakukan introspeksi diri. Merealisasikan janji-janji kampanye dulu.
 
"Nikmati saja hasil survei tersebut sebagai bahan introspeksi, bukan malah untuk jadi jemawa dan jauh dari janji-janjinya dulu, karena masyarakat akan terus mencatatnya," kata Roy.
 
Hasil survei CSIS sebelumnya menyebutkan, kalau pemilu presiden dilakukan saat ini maka popularitas Jokowi 41,9 persen (dari 36,1), Prabowo Subianto 24,3 persen (dari 28,0), Susilo Bambang Yudhoyono 5,6 persen (dari 4,8).
 
Lalu, Ridwan Kamil 5,5 persen (dari 3,6), Tri Rismaharini 4,1 persen, Basuki Tjahja Purnama 4,0 persen (dari 4,9), dan Anies Baswedan 2,4 persen (dari 1,4). Survei CSIS dilakukan dengan sampel 1.000 orang yang tersebar secara proporsional di 34 provinsi dengan menggunakan metode penarikan secara multi-stage random sampling.

Mereka yang dipilih telah miliki hak pilih atau berusia 17 tahun ke atas. Pengumpulan data dilakukan pada 8-15 Agustus 2016 melalui wawancara tatap muka mengunakan kuesioner terstruktur.

Hasil survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin errro 3,1 persen. Quality control terhadap hasil wawancara dipilih secara random sebesar 20 persen dari total sampel. (ase)