Uang Elektronik, Hemat Tenaga Tapi Bikin Konsumtif

Mayoritas pengguna uang elektronik merupakan kelompok milenial, generasi yang dianggap tak merencanakan keuangan secara tepat. - Antara Foto/Agung Rajasa
Sumber :
  • bbc

Namun Lana menyebut kemudahan dan keringkasan transaksi uang elektronik menyimpan resiko, terutama generasi muda yang belum begitu mapan dalam karier dan penghasilan.

Ia mengatakan transaksi jual-beli barang atau jasa yang ringkas rentan membuat konsumen melupakan tabungan atau investasi.

"Anak muda tidak mau beli mobil karena ada layanan Go-car atau Grab Car. Pada usia tertentu mereka akan baru sadar, uang saya selama ini habis belum punya aset."

"Pembayaran yang serba virtual juga kerap tidak terasa, uang tiba-tiba habis," tuturnya.

Lana mendorong perusahaan penyedia uang elektronik tak hanya mendorong transaksi, tapi juga mengedukasi penggunanya tentang perencanaan finansial. Alasannya, pengelolaan keuangan pribadi selama ini luput diajarkan lembaga pendidikan.

"Sebagai bagian dari tanggungjawab sosial, perusahaan bisa membuat sistem peringatan kalau pengeluaran pengguna sudah mendekati batas kemampuan finansial," kata Lana.

Peraturan Bank Indonesia 20/6/PBI/2018 tentang uang elektronik tidak membebankan tanggung jawab literasi finansial kepada perusahaan penerbit.

Bagaimanapun, kata Head Corporate Affair Go-Pay, Winny Triswandhani, pencatatan pengeluaran dalam sistem uang elektronik sebenarnya membantu konsumen mengatur keuangan.

Di sisi lain, Winny menyebut program cashback dan rabat yang ditawarkan Go-Pay turut membantu konsumen menyimpan lebih banyak uang.

"Kalau ambil Rp500.000 tunai, dua hari kemudian hilang, tidak tahu digunakan untuk apa saja. Kalau nontunai, semua transaksi tercatat. Dari situ kita bisa lebih bertanggung jawab pada pengeluaran." ujar Winny.

Sekitar 70% pengguna Go-Pay kini berusia antara 15 sampai 35 tahun. Pengguna uang elektronik ini terus bertambah sejak diterbitkan April 2016.

Winny mengatakan Go-Pay akan terus memperluas ekspansi bisnis dengan menggandeng lebih banyak mitra. Targetnya, Go-Pay bisa digunakan untuk membayar segala kebutuhan, dari pulsa, tagihan listrik hingga donasi sosial.

Mengutip survei Global Findex, Winny menyebut 70% penduduk Indonesia menerima upah secara tunai.

"Masih sangat banyak yang belum tersentuh uang elektronik. Potensi bisnis ini masih sangat besar," tuturnya.

Di sisi lain, konsumsi berlebihan juga berpotensi terus terjadi di kalangan anak muda.

Survei Universitas George Washington dan menunjukkan, hanya 24 persen milenial yang menganggap penting dan memahami pengelolaan dasar keuangan pribadi.