Resmi Melantai di Bursa RI, Intip Pergerakan Awal Saham Bukalapak

Pencatatan perdana saham Bukalapak (BUKA)
Sumber :
  • Repro video.

VIVA – PT Bukalapak.com Tbk resmi melakukan pencatatan perdana saham atau listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), pagi ini, Jumat, 6 Agustus 2021. Perusahaan ini menggunakan kode efek BUKA di pasar modal Indonesia.

Pada pembukaan perdagangan perdana, saham BUKA di level Rp1.055. Kemudian, naik 24,71 persen ke level Rp1.060 dan telah ditransaksikan sebanyak 1.755 kali dengan volume sebanyak 326,15 juta lot dan menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp345,72 miliar.

Sebagai emiten baru, BUKA menawarkan 25.765.5O4.800 lembar saham penawaran umum dengan harga Rp85O, per unit saham. Dana yang berhasil dihimpun dari IPO ini, sekitar Rp 21,9 triliun, akan digunakan untuk modal kerja Bukalapak dan anak-anak usahanya.

Adapun total saham yang dicatatkan sebanyak 103.062.019.354 saham, dengan masa penawaran umum saham 27 Juli 2021-30 Juli 2021. Tercatat bahwa penawaran saham Bukalapak melalui metode pooling mengalami kelebihan permintaan sekitar 8,7 kali lipat, dengan pemesanan dari hampir 100.000 investor.

Sebelumnya, Presiden Direktur Bukalapak, Rachmat Kaimuddin mengaku, telah menjaring para investor dari aksi korporasi ini. Investor itu merupakan para pemegang saham yang strategis, bereputasi tinggi, dan merupakan kombinasi yang baik antara teknologi, keuangan, dan bisnis.

Baca juga: Realita Ekonomi RI Tumbuh 7% Kala Pandemi, Masih Susah Cari Kerja

"Pemegang saham Bukalapak adalah perusahaan teknologi terkemuka di Indonesia dan dunia seperti Emtek, Ant Financial, Naver, dan Microsoft," kata Rachmat dalam telekonferensi," kata Rachmat beberapa waktu lalu.

Selain itu, lanjut Rachmat, Bukalapak juga mendapatkan kepercayaan dari beberapa perusahaan investasi dan keuangan terbaik. "Baik secara lokal, regional, maupun global seperti GIC, Mirae Asset, Shinhan Bank, Standard Chartered, BRI Ventures, dan Mandiri Capital," ujarnya.

Dia menambahkan, Bukalapak merupakan perusahaan yang tumbuh dari akar rumput Indonesia dan memiliki identitas yang kuat. Meskipun para pemegang saham perseroan beragam dan global, namun sampai hari ini mayoritas saham masih lebih dari 50 persennya dimiliki oleh para pemegang saham dari Indonesia.

"Kami berharap, dengan menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia, masyarakat Indonesia bisa ikut memiliki, mengawasi, dan menjaga Bukalapak," kata Rachmat.