Chatib Basri Bicara Dampak Konflik Rusia-Ukraina ke Pasar Keuangan RI

Chatib Basri
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVA – Ekonom senior, Chatib Basri mengatakan, konflik geopolitik yang terjadi antara Rusia-Ukraina dipastikan tidak akan terlalu berdampak pada pasar keuangan Tanah Air. Hal itu menurutnya dapat dilihat dari masih mengalirnya aliran investasi asing ke pasar keuangan Indonesia yang hingga kini masih cukup kuat.

Mantan Menteri Keuangan RI itu menjelaskan, penyebab para investor beralih ke pasar modal Indonesia adalah karena Rusia dikeluarkan dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), sehingga investor akan mencari negara lain yang cenderung aman untuk berinvestasi seperti misalnya Indonesia.

"Indonesia dianggap risikonya kecil (untuk berinvestasi). Jadi saya sih tidak terkejut kalau masih ada aliran modal masuk (capital inflow) ke Indonesia," kata Chatib dalam telekonferensi, Senin 4 April 2022.

Nilai Tukar Rupiah Disebut Masih Aman

Pekerja menunjukkan uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta

Photo :
  • ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Mengenai nilai tukar rupiah, Chatib menjelaskan bahwa share asing di obligasi pemerintah hanya sebesar 19 persen saja. Sehingga, menurutnya tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan dari hal tersebut.

Sementara dalam aspek perdagangan, mantan Menteri Keuangan era Presiden SBY itu juga tidak melihat dampak negatif yang signifikan. Apalagi, lanjut Chatib, ekspor Indonesia cenderung diuntungkan dengan adanya kenaikan harga sejumlah komoditas.

"Jadi terima kasih kepada tingginya harga energi dan komoditas," ujarnya.

Lonjakan yang terjadi pada sisi ekspor itu diakui Chatib Basri turut memberikan dampak positif bagi sejumlah sektor di Tanah Air. Meskipun di sisi lain, naiknya sejumlah harga bahan baku juga akan  turut berdampak pada sektor manufaktur di Tanah Air.

Sehingga, lanjut Chatib, apabila kenaikan harga komoditas ini berlangsung lama, maka akan ada risiko deindustrialisasi yang juga akan berdampak pada adanya potensi pergeseran investasi dari sektor manufaktur ke sektor seperti batu bara dan CPO.

"Jadi daya saing kita di sektor manufaktur juga berisiko mengalami penurunan. Ini yang akan membuat share dari sektor manufaktur kita berpotensi mengalami penurunan," ujarnya.