Rupiah Terancam Tembus Rp 16.000 per Dolar AS, Ini Biang keroknya

Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Jakarta  Mata uang rupiah pada siang ini pukul 13.27 WIB bergerak ke angka Rp 15.852 atau melemah 0,78 persen. Pergerakan data perdagangan ditengarai akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak kepada harga minyak dunia. 

Analis PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, gejolak di timur tengah pasca Iran merekomendasikan OPEC untuk melakukan embargo minyak ke Israel membuat kondisi di kawasan timur tengah memanas walaupun masih belum direspons oleh OPEC.

"Dengan kondisi rupiah yang terus melemah bahkan mau menuju Rp 16.000 akibat geopolitik di timur tengah serta cadangan devisa yang terus tergerus," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis, 19 Oktober 2023. 

Dolar AS dan rupiah.

Photo :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

Bank Indonesia (BI) diketahui telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sesuai dengan prediksi Ibrahim. Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot melemah pada perdagangan Kamis pagi, 19 Oktober 2023. Rupiah melemah sebesar 68 poin atau 0,43 persen ke posisi Rp 15.798 per dolar AS, dibandingkan pada penutupan sebelumnya senilai Rp 15.730 per dolar AS.

Ibrahim mengatakan, nilai tukar rupiah akan ditutup melemah pada hari ini salah satunya, dikarenakan para ekonom memperkirakan neraca transaksi berjalan Indonesia akan mencatat defisit sebesar 0,65 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023. 

"Neraca transaksi berjalan deposit  disebabkan karena kinerja ekspor hingga akhir tahun diperkirakan akan terus menurun akibat harga komoditas yang rendah. Selain itu juga didorong oleh permintaan global yang belum kuat, di tengah inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga kebijakan yang sedang berlangsung," kata Ibrahim.

Ibrahim mengatakan, pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI)  tanggal 18-19, ekonom memperkirakan suku bunga akan kembali dipertahankan di level 5,75 persen bulan ini, bahkan sampai akhir tahun  

"Namun, yang akan berbeda adalah penekanan BI untuk lebih menstabilkan nilai tukar rupiah, dan bagaimana bank sentral itu mengantisipasi dan memitigasi jika the Fed terus bersikap lebih hawkish di masa depan," ujarnya.