Sri Mulyani Proyeksi Ekonomi Global Tahun Ini Stagnan pada Level yang Rendah

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam konferensi pers APBN KITA Edisi April 2024, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 26 April 2024
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Jakarta – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memproyeksi bahwa kondisi ekonomi global tahun ini akan stagnan. Faktor terbesar yang menjadi penyebabnya, antara lain dinamika geopolitik global seperti konflik Iran-Israel.

Dia mengatakan, tingginya tensi geopolitik global ini nyatanya juga turut memberikan tekanan pada harga komoditas global. Mulai dari harga minyak dunia, nilai tukar mata uang, inflasi, hingga suku bunga global.

Termasuk dengan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp 16.200 per US$, akibat kebijakan pengetatan suku bunga oleh Bank Sentral AS yakni The Federal Reserve (The Fed).

"Kondisi lingkungan global dapat menyebabkan proyeksi ekonomi dunia cenderung stagnan pada level yang rendah, dan belum ada faktor yang mendorong gerak untuk tahun 2024 ini," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA Edisi April 2024, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 26 April 2024.

[Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati bersama jajarannya, dalam konferensi pers APBN KITA Edisi April 2024, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 26 April 2024]

Photo :
  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Tak hanya bagi Indonesia, Menkeu memastikan bahwa seluruh pemimpin dunia juga sangat menaruh perhatian khusus terhadap kondisi yang demikian. Pertimbangan terkait kondisi ini disebut-sebut telah menjadi fokus utama bagi para pembuat kebijakan. Bahkan, The Fed sendiri dikabarkan masih akan menunda penurunan suku bunganya.

"Market tadinya memiliki harapan penurunan suku bunga bisa terjadi tahun 2024 ini secara beberapa kali. Dengan data terbaru, nampaknya harapan market tidak terpenuhi karena nampaknya The Fed akan menjaga policy rate-nya," ujarnya.

Menkeu memperkirakan, mungkin penurunan suku bunga oleh The Fed itu baru akan terlihat, apabila data sisi gross labor maupun inflasi telah sampai pada kondisi yang meyakinkan mereka bisa melakukan adjustment.

"Dengan situasi ini, maka muncul ekspektasi yang harus diubah. Karena terjadi pergerakan yield US Treasury dan juga dolar indeks yang masih meningkat. Kalau dolar kuat, mata uang negara lainnya akan melemah," kata Sri Mulyani.

Bahkan, proyeksi dari IMF sendiri memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global hanya akan sebesar 3,2 persen, sebagaimana kondisi pertumbuhan ekonomi 2023 yang juga sebesar 3,2 persen.

"Ini akan stagnan dari tahun lalu. Lembaga lain seperti OECD bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia di bawah level yang diprediksi IMF, alias 2,9 persen. Sedangkan Bank Dunia lebih rendah lagi," ujar Menkeu.

Sementara untuk Indonesia sendiri, pertumbuhan ekonominya diproyeksi tetap berada di level 5,0 persen. Sementara untuk tahun 2025, Sri Mulyani mengatakan bahwa IMF memprediksi jika ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,1 persen.

"Situasi global yang cenderung melemah dan tekanan yang bertubi dari harga komoditas, inflasi, dan suku bunga, tentu akan mempengaruhi kinerja seluruh dunia terutama manufaktur. Namun Indonesia masih berada dalam situasi ekspansif dan pada level yang cukup baik," ujarnya.