Bisnis Remitansi Terancam
- Times of India
“Warga sipil, terutama pekerja migran di negara-negara Teluk, terancam, terbunuh, dan terluka akibat drone dan rudal Iran,” kata Joey Shea, peneliti senior HRW untuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Setidaknya, tiga pekerja Pakistan tewas di Uni Emirat Arab (UEA), termasuk seorang pria yang terkena puing-puing dari serangan drone. Meski menghadapi bahaya, sebagian besar ekspatriat Asia Selatan di Teluk tampaknya tetap bertahan, tanpa laporan adanya eksodus massal.
“Kelangsungan ekonomi lebih penting daripada risiko yang dirasakan bagi sebagian besar pekerja,” kata Harsh Pant, kepala program studi strategis di Observer Research Foundation (ORF), lembaga pemikir di New Delhi, kepada DW.
Menurutnya, sebagian besar pekerja India di Teluk menilai situasi saat ini sebagai “sementara dan masih dapat dikelola kecuali terjadi eskalasi dramatis.” Namun, bahkan jika para pekerja tetap tinggal, risiko jangka panjangnya adalah pekerjaan mereka mungkin tidak bertahan, terutama jika perang berlangsung berbulan-bulan.
Guncangan paling cepat sejauh ini dirasakan di sektor yang banyak mempekerjakan migran seperti penerbangan dan pariwisata. Meski demikian, selain beberapa gangguan dalam sistem pembayaran akibat lonjakan transfer karena kepanikan, perang sejauh ini belum berdampak pada arus remitansi.
Analis ORF, Pant, mengatakan bahwa bagi India, beberapa perkiraan menunjukkan penurunan remitansi dari Teluk sebesar 10-20 persen dapat berarti kehilangan US$5 miliar hingga 10 miliar per tahun.
Jika perang hanya berlangsung beberapa minggu, ekonomi negara-negara Teluk diperkirakan mengalami penurunan PDB sekitar 1-2 persen, yang berarti remitansi turun sekitar 5 persen, menurut perkiraan Capital Economics, lembaga analisis berbasis di London, Inggris.
Namun, jika konflik berlangsung tiga bulan atau lebih dan merusak infrastruktur energi kawasan secara signifikan, laporan tersebut memperingatkan bahwa PDB negara-negara Teluk bisa turun 10-15 persen dan remitansi sekitar 30 persen.
Untuk saat ini, ancaman ekonomi utama dari perang Iran bagi negara-negara tersebut justru berasal dari gangguan pengiriman minyak Bumi, LNG atau gas alam, dan pupuk melalui Selat Hormuz. Namun, jika penurunan remitansi berlangsung lama, tekanan ekonomi di Asia Selatan bisa semakin dalam.