Starbucks Mendadak Tutup 250 Gerai, Ada Apa?
- Reuters/Mohammad Khurseed
VIVA – Starbucks kembali melakukan penyesuaian terhadap jaringan gerainya di Amerika Utara. Perusahaan berencana menutup 250 gerai di Amerika Serikat dan Kanada pada pekan ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki kinerja bisnis dan melanjutkan proses turnaround.
Rencana tersebut disampaikan Chief Operating Officer Starbucks Mike Grams melalui surat yang dipublikasikan di blog perusahaan sekaligus dikirimkan kepada para karyawan pada Kamis silam. Penutupan 250 gerai itu akan memangkas jumlah gerai Starbucks di kawasan tersebut sekitar 1 persen.
“Kami telah meninjau secara cermat portofolio kedai kopi kami di Amerika Utara dan mengidentifikasi lokasi-lokasi yang menurut kami tidak dapat secara konsisten memberikan pengalaman yang kami inginkan bagi pelanggan dan mitra, atau lokasi yang menurut kami tidak memiliki jalur menuju kinerja keuangan yang dapat diterima,” tulis Grams kepada para karyawan, sebagaimana dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu, 26 September 2026.
Jumlah gerai Starbucks di Amerika Utara tercatat sebanyak 18.371 lokasi pada kuartal terakhir. Angka tersebut turun dibandingkan 18.734 gerai pada periode yang sama setahun sebelumnya.
Penutupan gerai juga bukan menjadi langkah baru bagi Starbucks. Hampir tepat setahun sebelumnya, perusahaan melakukan langkah serupa dengan memangkas sekitar 1 persen dari jumlah gerainya sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis.
Di tengah pengurangan jumlah gerai, Starbucks juga melakukan pembenahan terhadap lokasi yang masih dipertahankan. Perusahaan mengumumkan percepatan renovasi gerai di Amerika Serikat dan Kanada dengan konsep yang mengembalikan lebih banyak kursi serta suasana kafe yang diperbarui.
Starbucks menargetkan setidaknya 1.500 gerai akan mendapatkan pembaruan atau “uplifts” hingga akhir tahun fiskal 2026. Program tersebut kemudian akan ditingkatkan lagi pada tahun fiskal 2027.
Langkah penutupan dan renovasi tersebut berlangsung ketika Starbucks berusaha menjalankan strategi pemulihan bisnis di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol. Perusahaan juga memperluas agenda bisnisnya di luar jaringan gerai dengan rencana membuka pusat teknologi di Chennai, India, pada tahun depan.
Strategi tersebut dilakukan setelah Starbucks mencatat kinerja yang lebih kuat pada kuartal ketiga. Penjualan gerai yang sama atau same-store sales tumbuh 7,9 persen, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi Wall Street sebesar 5,7 persen.