Isu MSCI Menghantam IHSG, Ini Tanggapan Airlangga
- Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta, VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (19/10/2026), terjadi akibat sentimen negatif di pasar saham.
"Ya biasa kalau ada sentimen negatif kan biasa turun. Tetapi dengan ada regulasi baru auto rejection 7 persen, kan relatif terjaga dan penutupan tadi 5.000 lebih sedikit," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Airlangga menanggapi IHSG yang sempat turun di bawah level 5.000 sebelum kembali bergerak di atas level tersebut. Menurut dia, pergerakan indeks saham dipengaruhi oleh isu dan sentimen yang berkembang di pasar.
"Ya, enggak, itu namanya ya naik turun. Tergantung pada isu sentimen," ujarnya.
Salah satu sentimen yang membayangi pasar saham Indonesia adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia menjadi standalone market.
Terkait kemungkinan perubahan status tersebut, Airlangga mengatakan prosesnya masih berlangsung hingga tahun depan.
"Kan masih bulan Juni tahun depan. Biasa dia ngancam-ngancam dikit kan," imbuhnya.
Pada perdagangan Senin, IHSG dibuka melemah 223,23 poin atau 4,31 persen ke posisi 4.961,88. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turun 28,06 poin atau 5,52 persen ke posisi 480,50.
Pelemahan IHSG disebut sebagai dampak lanjutan dari pengumuman MSCI mengenai konsultasi peluang perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham dari sebelumnya 15 persen menjadi 7 persen. Kebijakan yang didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu berlaku mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Penyesuaian batas ARB bertujuan menjaga perdagangan efek tetap teratur, wajar, dan efisien sekaligus mengendalikan volatilitas pasar. Kebijakan tersebut juga memberikan kesempatan kepada investor untuk mengevaluasi dan mencerna informasi yang tersedia sebelum mengambil keputusan investasi. (Ant)