Pertamina Tunggu Iran soal Ladang Minyak Raksasa

Gedung Pertamina Lapangan Banteng.
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVA.co.id - PT Pertamina masih menanti keputusan pemerintah Iran untuk menindaklanjuti preliminary proposal pengembangan dua lapangan onshore Ab-Teymour dan Mansouri (Bangestan - Asmari). Kedua ladang minyak raksasa di Iran itu adalah hasil nota kesepahaman National Iranian Oil Company dan Pertamina pada Agustus 2016.

Senior Vice President Upstream Business Development Pertamina, Denie Tampubolon, mengatakan bahwa perusahaannya masih menunggu pemerintah Iran memberikan "lampu hijau" atas proposal itu. Menurut Denie, salah satu faktor penyebabnya ialah sanksi atas Iran yang diberikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui kebijakan “Perintah Eksekutif”.

"Yang paling utama itu saja, karena kami sudah menjajaki untuk masuk ke beberapa negara, seperti Iran. Sementara penyelesaian masalah (sanksi) di Iran sedang diperbincangkan di PBB. Nah, kami sedang menunggu akan seperti apa (kelanjutannya)," ujar Denie ketika ditemui di Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu, 9 April 2017.

Ia menuturkan, faktor itu akan mendorong Pertamina melakukan akselerasi. "Jangan dikira hanya Pertamina. Porsinya, kan, kami sedang menjajaki dengan pemerintah Iran. Jadi harus ada kesepakatan antara kita dan pemerintah Iran. Jangan mengklaim keduanya sudah tanda tangan. Bukan, dua pihak belum (tanda tangan)," ujarnya.

Pertamina mempertimbangkan berbagai aspek, terutama kebijakan geopolitik. Sementara itu, Iran masih mengkaji dan mempertimbangkan proposal Pertamina.

“Kalau Trump tidak mencabut sanksi itu, bagaimana posisi Pertamina? Kami mesti memikirkan karena ada beberapa negara yang bisa melakukan investasi, meski terjadi sanksi," katanya.

Meski sanksi yang diberikan Presiden Trump kepada Iran hanya mencakup urusan politik dan tidak menyentuh soal perminyakan, Pertamina perlu mewaspadai dampak kebijakan itu. Kondisi yang perlu diperhatikan, kebijakan itu berdampak, misalnya, komponen kendaraan atau ke komponen teknologi.

“Karena kami belum tahu yang dicabut apa dan yang tidak dicabut apa. Jadi kami sedang cari tahu dampak terhadap investasi perminyakan," katanya.

Berdasarkan nota ke­sepahaman itu, Pertamina memiliki waktu enam bu­lan untuk melakukan stu­di dan selanjutnya me­nyampaikan preliminary proposal pengembangan kedua lapangan onshore yang memiliki cadangan lebih lima miliar barel itu.

Dalam upaya penyiapan pro­posal, NIOC akan membuka informasi dan be­kerja sama dengan tim Per­tamina dalam bentuk joint working group. Iran tengah mempersiapkan Iranian Petroleum Contract, yang akan menandai babak baru industri migas di negara itu. (art)