Ozil dan Gundogan bertemu dengan Presiden Jerman
- bbc
Dua pemain timnas sepak bola Jerman keturunan Turki, Mezut Ozil dan Ilkay Gundogan telah bertemu Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, setelah beredar foto pertemuannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Partai AKP, yang penguasa di Turki, merilis foto-foto mereka dengan Recep Tayyip Erdogan menjelang pemilihan umum di negara tersebut.
Sejumlah politikus Jerman mengatakan agaknya Mesut Ozil dan Ilkay Gundogan mendukung Erdogan - sebuah tuduhan yang ditolak kedua pemain timnas Jerman tersebut.
Jerman mengecam tindakan Erdogan terhadap apa yang mereka sebut sebagai perbedaan politik menyusul kudeta yang gagal.
Ozil, yang memperkuat Arsenal, dan pemain Manchester City Gundogan memberikan kaos klubnya masing-masing, lengkap dengan tanda tangannya, kepada Erdogan pada sebuah acara di London pekan lalu.
Kedua pemain ini akan memperkuat timnas Jerman di Piala Dunia FIFA bulan depan di Rusia, dan Jerman merupakan salah satu favorit juara. Adapun Turki tersingkir di babak kualifikasi.
Menjernihkan kesalahpahaman
Federasi sepak bola Jerman (DFB) juga mengkritik dua pemain timnas Jerman itu atas peristiwa di balik foto tersebut.
"Keduanya menghubungi kami dan DFB dan ingin menyelesaikan masalah ini," kata pelatih timnas Jerman, Joachim Loew, kepada wartawan.
Mereka akhirnya bertemu Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier di istana presiden di Berlin.
"Penting bagi mereka berdua untuk menjernihkan kesalahpahaman," kata Presiden Steinmeier.
Dia mengatakan bahwa Özil telah memberitahunya bahwa dia memposisikan dirinya sebagai orang pJerman, sementara Gündogan menegaskan bahwa "Jerman jelas adalah negara saya dan tim saya".
"Keduanya meyakinkan kami bahwa mereka tidak ingin mengirim sinyal politik apa pun dengan tindakan itu," kata Presiden DFB, Reinhard Grindel.
"Mereka juga menyatakan bahwa mereka memposisikan diri di belakang nilai-nilai kami (Jerman) di luar lapangan dan bahwa mereka mengidentifikasi sebagai orang Jerman."
Menindas oposisi
Erdogan, yang sudah berkuasa selama 15 tahun terakhir, sedang berusaha tetap di tampuk kekuasaan dalam pemilihan presiden dan parlemen yang dipercepat pada 24 Juni nanti.
Partai AKP, yang didukung kelompok Islamis, melakukan tindakan keras terhadap lawan politiknya, terutama sejak kudeta yang gagal pada Juli 2016 oleh sejumlah perwira militer.