Vaksin HIV yang Menjanjikan Diujicobakan Pada Manusia
- abc
Ini adalah pencarian yang sudah berjalan hampir 40 tahun: menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk HIV.
Para ilmuwan, kini, "optimististis" secara berhati-hati bahwa mereka selangkah lebih dekat setelah uji coba vaksin baru terhadap manusia dan monyet telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet, pengobatan uji coba itu ditemukan untuk menghasilkan tanggapan kekebalan anti-HIV pada orang dewasa yang sehat, dan melindungi monyet terhadap infeksi dari virus yang mirip dengan HIV.
Peneliti utama, Dan Barouch, dari Harvard Medical School mengatakan, penelitian itu merupakan "tonggak penting" dalam penelitian HIV, tetapi hasilnya harus ditafsirkan dengan hati-hati.
"Kami senang dengan hasil saat ini ... tetapi kami tak bisa berasumsi bahwa vaksin ini akan bekerja pada manusia," kata Profesor Barouch kepada The Health Report.
Untuk menguji teori itu, kini, para peneliti akan memberi vaksin 2.600 perempuan di Afrika bagian selatan yang berisiko tertular HIV.
"Ini hanyalah konsep vaksin HIV kelima yang akan diujicobakan kemanjurannya pada manusia dalam sejarah 35 tahun epidemi global," kata Profesor Barouch.
Hampir 37 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV, dengan sekitar 1,8 juta kasus baru setiap tahunnya.
Vaksin menarget jenis beragam
Salah satu tantangan utama mengembangkan vaksin HIV yang efektif adalah kemampuan virus untuk bermutasi dengan cepat dan menghindari serangan dari sistem kekebalan tubuh kita.
Ada banyak jenis HIV, dan uji coba vaksin sebelumnya biasanya terbatas pada jenis virus tertentu di wilayah tertentu di dunia.
Namun, untuk penelitian ini, para peneliti menggunakan apa yang disebut vaksin "mosaik" yang menggabungkan potongan berbagai jenis virus HIV untuk memperoleh tanggapan kekebalan terhadap berbagai jenis HIV.
Pada tahun 2015, Profesor Barouch dan rekan-rekannya menguji berbagai kombinasi dari vaksin mosaik pada orang dewasa yang sehat di Afrika timur, Afrika Selatan, Thailand dan Amerika Serikat.
Sebanyak 393 peserta diberi empat vaksinasi selama 48 minggu. Setiap kombinasi vaksin ditemukan aman dan "ditoleransi dengan baik" dan menghasilkan tanggapan kekebalan anti-HIV.