Langkah untuk Cegah Serangan Virus Ransomware

Ilustrasi.
Sumber :
  • www.pixabay.com/Pixies

VIVA.co.id - Serangan ransomware atau virus komputer pemalak, Wannacry menghebohkan dunia. Sejak Jumat lalu diperkirakan 99 negara terkena dampak serangan ransomware ganas ini, termasuk Indonesia.

Serangan ransomware ini diketahui setelah beberapa rumah sakit terkemuka mengalami kendala teknis dalam sistem antreannya. Ransomware beraksi menginfeksi file komputer dan penyebar virus ini meminta tebusan untuk bisa membebaskan data file korban.

Pakar keamanan siber, Pratama Persadha menjelaskan, ransomware sebenarnya sangat banyak jenisnya dan sudah sejak lama menyerang sistem operasi, terutama sistem operasi Windows.

"Yang membuat ransomware Wannacry menjadi 'booming' adalah karena ransomware ini menyerang menggunakan zero day exploit, yang belum pernah diketahui sebelumnya," ujar dia dalam keterangan tertulis, Minggu 14 Mei 2017.

Artinya, kata dia, saat pertama kali ransomware ini menyerang, sebenarnya Microsoft yang ter-update pun akan tetap terkena. Sebab, Microsoft belum mengetahui adanya celah keamanan ini sampai dengan celah itu dipublikasikan.

Dengan demikian, ujar mantan pejabat Lembaga Sandi Negara itu, akan ada jeda waktu antara saat ransomware ini menyerang dan waktu saat Microsoft mengetahui celah keamanan ini dan menambal (patching) terhadapnya.

Eksploit yang digunakan sendiri dibocorkan oleh grup hacker "Shadow Broker". Shadow broker pertama kali merilis "Equation Group Cyber Weapons Auction-Invitation" pada Agustus 2016 yang berisikan tools yang diduga digunakan oleh NSA.

Kelompok ini pada 14 April 2014 merilis kembali Fifth Leak: "Lost in Translation", yang salah satunya berisikan eksploit yang digunakan oleh Wannacry untuk menginfeksi korban.

Sebagai tindakan preventif yang bisa dilakukan adalah selalu melakukan update serta backup data, merupakan hal yang wajib dilakukan agar terhindar dari malware, baik ransomware, virus, ataupun trojan.

"Update baik dari segi aplikasi, anti virus, dan OS yang digunakan,” ujar chairman lembaga riset keamanan siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) ini.

Selain itu, Pratama menuturkan, selanjutnya lakukan hardening terhadap sistem yang digunakan dan matikan service yang tidak diperlukan. Lalu, hindari sembarangan mengklik link (tautan) atau file yang dikirimkan oleh pihak yang tidak dikenal.