2 Tahun Lagi, Beginikah 'Wajah' Teknologi 5G di Indonesia?

Teknologi 5G.
Sumber :
  • cbc.ca

VIVA – Ericsson merilis laporan Consumer Lab terbaru, 5G Consumer Potential. Hasil laporan itu mematahkan sejumlah anggapan yang kurang tepat mengenai teknologi 5G dewasa ini.

"Melalui penelitian ini kami telah mematahkan empat mitos mengenai pandangan pelanggan terhadap 5G dan menjawab apakah fitur 5G memerlukan jenis perangkat baru atau apakah ponsel pintar akan menjadi silver bullet untuk 5G. Pelanggan jelas menyatakan bahwa ponsel pintar tidak akan menjadi solusi 5G satu-satunya," kata Head of Consumer Lab Ericsson Research, Jasmeet Singh Sethi, dalam pernyataannya, Selasa 28 Mei 2019. 

Salah satu mitos 5G, adalah jaringan itu tidak menawarkan manfaat jangka pendek bagi pelanggan. Lalu berikutnya tidak ada penerapan 5G yang sesungguhnya dan tidak ada harga premium. Ada pula sebutan silver bullet bagi 5G, yaitu solusi tunggal memberikan layanan jaringan itu.

Salah satu temuannya adalah mengenai pelanggan, termasuk orang yang tinggal di Indonesia mengharapkan 5G dapat membantu mengatasi kepadatan jaringan di perkotaan dalam waktu dekat. Pengurai kepadatan ini terjadi terutama di kota besar seperti Jakarta. 

Di kota besar ditemukan 6 dari 10 pengguna ponsel memiliki masalah jaringan untuk wilayah padat penduduk. Responden juga berharap akan disediakan lebih banyak pilihan untuk home broadband seiring perilisan 5G. 

Selain itu, mitos pelanggan yang tidak ingin membayar premi untuk 5G dibantah oleh laporan tersebut. Tercatat, pengguna mau membayar 20 persen lebih banyak dan early adapter juga mau merogoh kocek hingga 32 persen. 

Dalam laporan, 4 dari 10 pengguna mengharapkan ada sejumlah aspek yang harus diperhitungkan. Di antaranya adalah use case baru, mode pembayaran yang mudah, jaringan 5G lebih aman, dan kecepatan internet yang tinggi serta konsisten. 

Konsumsi video juga akan semakin meningkat seiring penggunaan 5G. Video akan bisa dinikmati dengan resolusi tinggi serta tayangan dengan format AR dan VR. 

Nantinya dengan 5G, video bisa dinikmati empat jam lebih lama dalam seminggu. Penggunaan perangkat kacamata AR dan headset VR juga menjadi lebih lama satu jam tanpa ada jeda. 

Di laporan 5G Consumer Potential, Indonesia mengharapkan jaringan 5G akan tersedia dua tahun lagi. Enam bulan dari sekarang mereka juga akan mengganti operator jika perusahaan telekomunikasi itu tidak ada layanan 5G. 

Pelanggan Indonesia diharapkan bersiap membayar premi Rp30 ribu dan Rp50 ribu untuk early adapter. Sedangkan penggunaan data meningkat hingga 60GB perbulan dan pengguna dengan konsumsi besar bisa menghabiskan 110GB perbulannya. 

Laporan tersebut juga menghasilkan penggunaan kacamata AR akan diharuskan pada 2025. Pengguna juga mengharapkan adanya pengalaman baru berinternet dengan 75 persen percaya akan ada kecepatan ultra-high internet yang bisa membuat orang bisa bekerja di mana saja. 

Sektor otomotif juga menjadi sorotan dalam laporan ini. Ada 67 persen pelanggan konektivitas jaringan 5G di mobil sama dengan efisiensi bahan bakar dalam lima tahun. (ren)