Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Banjir 2020, Warganet Kenang Sosok Sutopo Purwo Nugroho

Kamis, 2 Januari 2020 | 11:45 WIB
Foto :
  • Ridho Permana/VIVA
Mantan Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, (alm) Sutopo Purwo Nugroho.

VIVA – Hujan deras yang turun sejak Selasa sore, 31 Desember 2019 atau saat malam Tahun Baru 2020, menyebabkan beberapa titik di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) mengalami banjir.

Bahkan, sejak Rabu, 1 Januari kemarin, tagar #Banjir dan #Banjir2020 menjadi trending topic di media sosial Twitter.

Baca Juga

Salah satunya akun Twitter @kangdede78 yang mengingat sosok mantan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, yang aktif menyuarakan tentang kebencanaan, termasuk soal hoax yang berkaitan dengan kebencanaan.

"Walaupun ini mungkin hanya kebetulan semata, namun semua pengguna medsos tau sosok alm @Sutopo.PN. Beliau sudah memprediksi #banjir2020. Pesan baik dari almarhum untuk pemangku kepentingan di Pemprov @DKIJakarta & @aniesbaswedan," tulis akun @kangdede78, Kamis, 2 Januari 2020.

Postingan yang sudah di-retweet 138 kali ini mengunggah tangkapan layar di Twitter yang pernah dibuat almarhum Sutopo Purwo Nugroho. Pada tangkapan layar yang pertama ia bertanya apakah 2019 masih akan banjir lagi?

Jika diperhatikan maka tweet ini ditulis pada 6 Februari 2019. Ia berharap normalisasi sungai dilanjutkan agar bisa mengurangi banjir di bantaran Sungai Ciliwung, Srengseng Sawah, Rawajati, Kalibata, dan sejumlah lokasi lainnya.

"Tidak mungkin mengatasi banjir Jakarta tanpa normalisasi sungai. Kampung Pulo perlu lebar minimal 10-20 meter lagi agar bisa dialiri debit banjir. Saat ini hanya 1-3 meter saja. Tanggul tak selamanya mengamankan banjir secara mutlak," demikian keterangan Sutopo kala itu.

Pria yang meninggal dunia pada 7 Juli 2019 ini juga berharap permukiman padat di dalam badan sungai harus dipindahkan karena lebar sungai yang seharusnya 20-30 meter, tapi faktanya hanya 5-10 meter saja.

"Pelebaran, memperdalam dan menata tebing Sungai Ciliwung di Kampung Pulo telah menyebabkan banjir cepat surut. Apakah ini disebut normalisasi atau naturalisasi? Jawab yang benar," ujar Sutopo, dalam tweet-nya yang diunggah pada 16 Februari tahun lalu.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler