Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Rabu, 26 Februari 2020 | 08:00 WIB

Kalau Grab dan Gojek 'Kawin': Mereka Untung, Konsumen Buntung

Team VIVA »
Lazuardhi Utama
Novina Putri Bestari
Foto :
  • Financial Times
Persaingan Grab dan Gojek.

VIVA – Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Fithra Faisal menyebut jika benar Grab dan Gojek merger, maka ekosistem di transportasi online tidak baik karena aktvitas monopoli semakin kuat.

"Kalau terjadi monopoli maka bisa berbuat seenaknya. Ujung-ujungnya konsumen dirugikan. Dengan adanya kompetisi maka semakin banyaknya player (pemain di industri ini) itu bagus untuk konsumen dan efisiensi pasar. Meski mergernya masih spekulasi, ya," kata Fithra kepada VIVA, Selasa malam, 25 Februari 2020.

Baca Juga

Baca: Bantahan Gojek soal merger dengan Grab

Seperti diketahui, pemain ride-hailing di Indonesia bukan hanya Grab dan Gojek, meski keduanya masih yang terbesar. Mereka adalah Anterin, Bonceng, Cyberjek dan Maxim.

Jika merger benar terjadi, maka menjadi langkah bisnis besar berikutnya bagi Grab setelah mereka membeli bisnis Uber di Asia Tenggara pada akhir Maret 2018. Sayang, Grab kena sanksi oleh Singapura karena aksi korporasinya tidak dikonsultasikan terlebih dahulu dan juga melanggar prinsip persaingan usaha.

Kuncinya di tarif

Topik Terkait
Saksikan Juga
Bos Taksi Malaysia: Indonesia di Hati Saya
TVONE NEWS - 11 bulan lalu
Terpopuler