Jawa, Bali dan Nusa Tenggara akan Mengalami Fenomena Alam Ini

Sinar Matahari.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Matahari akan terbenam lebih lambat jika diamati dari Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Fenomena terjadi mulai hari ini hingga akhir Januari mendatang.

"Seperti yang kita tahu, Bumi berotasi terhadap sumbunya dengan kemiringan 66,6 derajat bidang edar atau ekliptika. Secara bersamaan, Bumi juga mengelilingi Matahari dengan sumbu yang miring tersebut," kata Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Andi Pangerang, dikutip dari situs LAPAN, Rabu, 26 Januari 2022.

Miringnya sumbu rotasi Bumi saat mengelilingi Matahari dapat menyebabkan waktu terbit dan terbenamnya Matahari bervariasi selama satu tahun, baik itu lebih cepat maupun lebih lambat.

Saat sumbu rotasi di belahan Bumi utara dan kutub utara Bumi miring ke arah Matahari, maka Matahari akan terbit lebih cepat dan terbenam lebih lambat di belahan Bumi utara.

Hal ini terjadi saat Solstis Juni, yakni ketika Matahari berada paling utara saat tengah hari terjadi pada 20/21 Juni setiap tahunnya. Sementara itu rotasi di belahan selatan Bumi dan kutub selatan Bumi miring menjauhi Matahari.

Hal itu menyebabkan Matahari terbit lebih lambat dan terbenam lebih cepat di belahan Bumi selatan. Hal ini terjadi saat Solstis Desember, yakni ketika Matahari berada paling selatan saat tengah hari yang terjadi pada 21/22 Desember setiap tahunnya.

Perata waktu akan bernilai minimum pada 11 Februari dengan nilai -14 menit 11 detik. Hal ini dikarenakan deklinasi Matahari semakin positif (menjauhi deklinasi minimum saat solstis dan mendekati ekuinoks) dan Bumi meningkatkan titik terdekat dari Matahari atau perihelion.

"Selain itu, Matahari akan terbenam semakin akhir bagi pengamat di belahan Bumi selatan jika menggunakan waktu sejati. Dua kombinasi ini, perata waktu dan waktu terbenam Matahari akan menyebabkan Matahari terbenam lebih lambat di Bumi belahan selatan seperti Jawa, Bali dan Nusa Tenggara," jelas dia.

Fenomena ini dapat terjadi setiap tahun dengan waktu terbenam Matahari dan tanggal yang kurang lebih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Peneliti LAPAN Andi Pangerang menegaskan bahwa ini fenomena alam biasa yang terjadi setiap tahunnya jadi tidak perlu panik.