Heboh ChatGPT Bisa Ganti Peran Pendeta di Gereja

OpenAI ChatGPT.
Sumber :
  • Richard Drew

VIVA Tekno – ChatGPT merupakan layanan chatbot AI besutasn OpenAI yang kini sudah dimanfaatkan oleh rumah ibadah. Belum lama ini, sebanyak 300 umat Kristen berkumpul di gereja yang sudah terotomatisasi dengan ChatGPT.

Dilansir dari ArsTechnica, Kamis, 10 Agustus 2023, Gereja St. Paul di Bavarian, Furth, Jerman, yang menggelar ibadah menggunakan layanan berbasis kecerdasan buatan tersebut. Selama 40 menit, gereja menampilkan khotbah yang menyertakan teks buatan ChatGPT.

ChatGPT.

Photo :
  • Getty Images

Adapun khotbah itu disampaikan oleh avatar pada layar televisi yang diletakkan di atas altar. Tak ada lagi penampakan pendeta yang biasanya membawakan khotbah.

"Teman-teman terkasih, merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk berdiri di sini dan berkhotbah kepada Anda sebagai kecerdasan buatan (AI) pertama di konvensi umat Protestan Jerman tahun ini," kata chatbot yang dipersonifikasi oleh avatar berwujud pria berjenggot, dikutip dari ArsTechnica

Pelayanan tersebut merupakan rangkaian dari konvensi dua tahunan 'German Evangelical Church Congress'. Ibadah itu meliputi doa dan musik.

Penggagasnya adalah Jonas Simmerlein, seorang teolog dan filsuf dari Universitas Wina. Khusus tahun ini, Simmerlein mengatakan rangkaian pelayanan sudah terotomatisasi dengan mesin sekitar 98%.

Sisanya 2% membutuhkan peran manusia. Pasalnya, ChatGPT tidak bisa berfungsi sendiri. Simmerlein memandu setiap aspek pembuatan khotbah.

Topik khotbah diinstruksikan ke ChatGPT untuk fokus pada upaya meninggalkan masa lalu, mengatasi ketakutan akan kematian, dan bagaimana agar selalu memegang teguh iman.

"Saya memberikan arahan ke AI, 'kita ada di kongres gereja, Anda adalah pendeta. Bagaimana pelayanan yang akan Anda berikan?'," Simmerlein mencontohkan.

Penggalan obrolan dengan ChatGPT.

Photo :
  • vstory

Ada beragam reaksi atas ChatGPT yang membawakan khotbah di gereja. Heiderose Schmidt (54 tahun) mengatakan sang avatar membawakan khotbah terlalu cepat dan tak memiliki emosi.

"Tak ada hati dan jiwanya," ujarnya.

Simmerlein menegaskan  bahwa intensinya menggunakan ChatGPT bukan untuk menggantikan peran pemuka agama. Ia hanya ingin memanfaatkan AI sebagai tool yang membantu pendeta dalam menjalankan tugas.

Ia mencontohkan, AI bisa memberikan ide tentang topik pembahasan dalam pelayanan selanjutnya. Hal ini bisa membebaskan pendeta agar punya waktu dan energi lebih untuk bimbingan spiritual umat secara individu.