Ini Aplikasi yang Disukai dan Dibenci Orang Indonesia

Acara Baidu 'Mobile Apps Market Study Indonesia' di SCBD, Jakarta, Kamis (7/04/2016).
Sumber :

VIVA.co.id - Seiring meningkatnya penggunaan smartphone dan perangkat bergerak lainnya di Indonesia, turut menumbuhkan penggunaan aplikasi mobile. Hal ini menjadi pertanda, orang yang bisa 'berselancar' di website sudah beralih ke aplikasi.

Hal itu diungkap Baidu dalam studi terbarunya yang dilaksanakan oleh lembaga riset independen, GfK Indonesia berjudul 'Mobile Apps Market Study Indonesia'. Studi menunjukkan, penetrasi aplikasi mobile di Tanah Air mencapai 97 persen dan angka itu lebih tinggi dari penetrasi browser yang hanya 76 persen.

Disebutkan pula, para 'pecandu' smartphone ini rata-rata meluangkan waktu 60 menit per hari untuk berinteraksi dengan aplikasi mobile yang telah diunduh ke dalam perangkat mereka.

"Aplikasi mobile telah menjadi warna tersendiri dalam mendorong pertumbuhan bisnis di industri kreatif berbasis teknologi informasi. Temuan-temuan baru tentang perilaku serta minat pasar Indonesia terhadap aplikasi mobile, semakin menguatkan pentingnya keberadaan aplikasi mobile yang mendukung produktivitas dan gaya hidup," ujar Managing Director Baidu Indonesia, Bao Jianlei di Kawasan SCBD, Jakarta, Kamis, 7 April 2016.

Dari studinya, Baidu menemukan kategori aplikasi mobile paling popular di Indonesia, yaitu game (38 persen), instant messaging (27 persen), dan media sosial (19 persen), menjadi kategori aplikasi mobile yang paling sering diunduh pengguna di Indonesia.

"Namun uniknya lagi, aplikasi kategori-kategori itu pulalah yang paling banyak dihapus kembali oleh pengguna. Misalnya, game kecenderungan dihapusnya 50 persen, instant messaging (29 persen) dan media (16 persen)" ujar Head of Marketing, Baidu Indonesia, Iwan Setiawan.

Selain itu, aplikasi lainnya yang digemari oleh orang Indonesia, yakni layanan yang isinya tentang belanja online (8 persen), transportasi (6 persen), buku dan aneka referensi (6 persen), peta dan navigasi (3 persen), serta berita dan informasi (3 persen).

"Sementara, aplikasi-aplikasi lainnya yang sering dihapus adalah aplikasi belanja online (10 persen) dan transportasi (3 persen)" ucapnya.

Soal alasan pengguna menghapus aplikasinya, Iwan mengatakan, aplikasi tersebut jarang dipakai (42 persen), memori tidak mencukupi (36 persen) atau bosan dengan aplikasi tersebut (27 persen).

"Alasan lain yang mengemuka adalah karena aplikasi tidak dapat berfungsi (15 persen), pengguna lebih memilih aplikasi lainnya (13 persen), serupa dengan aplikasi lain (9 persen), tidak sesuai dengan kebutuhan anak (4 persen), dan aplikasi yang ingin diunduh terlalu mahal (3 persen)."

(mus)