Telkom Sediakan Live Streaming Java Jazz

Kolaborasi Chris Botti-Sting di Java Jazz Festival 2016
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Bagi Anda yang tidak sempat membeli tiket, atau tidak bisa menghadiri perhelatan musik jazz tahunan, Java Jazz, tidak perlu berkecil hati. Telkom ternyata telah menyediakan layanan khusus siaran langsung Java Jazz Festival.

Tim SmartEye dari Divisi Digital Service PT Telkom mengklaim telah digandeng promotor Java Jazz untuk menyiarkan perhelatan yang berlangsung selama tiga hari itu di Jakarta. Pada 3-5 Maret 2017, Java Jazz Festival bisa dilihat melalui live streaming kamera 360 di situs http://live.javajazzfestival.com/.

Nikmatur Rahmah, salah satu founder SmartEye, mengatakan, layanannya tersebut gratis dan memungkinkan masyarakat menonton langsung secara daring (live streaming) konser jazz tersebut dari semua sudut gambar.

"Ini pengalaman baru di Indonesia, festival jazz internasional bisa disaksikan live streaming dari sudut kamera 360 derajat. Bisa dilihat dari atas, bawah, samping kanan, kiri, belakang, dan depan musisi, secara gratis," katanya, dalam keterangan resmi, Jumat, 3 Maret 2017.

Jika menggunakan komputer personal/PC, akses kamera multiarah itu bisa dikendalikan tetikus (mouse). Jika ingin melihat bagian depan musisi misalnya, maka klik, tahan, dan geser (drag) ke arah yang dihendaki sehingga bisa melihat sisi lain pemusik yang sedang konser live.

Adapun suara dan tayangan yang dihasilkan tidak ada perubahan apa pun sekalipun pengunjung aktif mengubah posisi dan arah mouse-nya, sehingga seluruh sudut terjangkau tanpa kehilangan momen musiknya.

Menurut dia, selain PC, seluruh jenis gawai akan bisa merasakan sensasi baru menonton konser musik tersebut khususnya pada 5 dari 11 titik konser yang bekerja sama dengan SmartEye.

Lima titik pengambilan kamera tersebut antara lain pada stage outdoor, serta panggung di dalam ruangan yang disebut hall. Setiap harinya, kata dia, masyarakat bebas mengakses mulai dari pukul 16.00 hingga dinihari tanpa syarat dan ketentuan apa pun.

"Kami sarankan menggunakan jaringan kecepatan tinggi yang sudah teruji. Buffering akan tergantung pada akses internet gawai. Kalau lambat ya lambat, kalau akses baik tidak ada buffering," tuturnya.

Nikmatur Rahmah menciptakan SmartEye bersama dua karyawan Telkom lainnya, yakni Ahmad Nasirudin dan Fahmi Ramadani. Dua nama terakhir sebelumnya menciptakan virtual reality berupa tur ke venue PON 2016, September lalu. (art)