Hati-hati Pilih Software Open Source, Ini Sebabnya
- Pixabay
Jeli pilih solusi
Menanggapi kasus itu, Chief Executive Officer PT. Equnix Business Solutions, Julyanto Sutandang, ada hikmah dari perseteruan tersebut. Pengguna harus cermat memilih solusi software.
“Dari kasus tersebut kita semua bisa berkaca, meski diuntungkan oleh ketersediaan software Open Source yang memberikan alternatif solusi lebih baik dan efektif, namun kita juga harus jeli agar tidak salah memilih,” kata Julyanto dalam keterangannya, Senin 9 April 2018.
Ia menuturkan, tidak semua software Open Source adalah Open Source murni atau tidak ternoda hak cipta propietary yang terkait dengan lisensi komersial.
Pada umumnya, kata dia, software Open Source dibuat untuk satu tujuan ideal sebagai bagian dari infrastruktur teknologi informasi secara umum, seperti sistem operasi Linux, Database Relational PostgreSQL, Kannel SMPP Gateway, Apache Web Server, dan sebagainya.
Meski demikian, ada pula software yang didistribusikan dalam bentuk kode sumber dengan lisensi Open Source, tetapi juga memiliki lisensi komersial sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai Open Source murni. Salah satu contohnya MySQL, Jboss dan lainnya.
Ada pula inisiasi awal pengembangan software yang dilakukan oleh komunitas dengan tujuan menggantikan fungsi software propietary. Upaya ini dalam perjalanannya berupaya meniru fitur, mekanisme, dan yang paling sering adalah antarmuka pengguna (UI). Hal tersebut bisa berpotensi menjadi sengketa hukum di masa mendatang, terutama setelah adanya kasus Oracle melawan Google ini.
“Pelajaran yang harus kita petik dari kasus Oracle vs Google adalah perlunya kehati-hatian dalam mengadopsi teknologi berbasiskan Open Source. Sebab, tidak ada yang menginginkan migrasi dan perubahan yang sudah dilakukan akan menjadi bumerang di masa mendatang,” kata Julyanto.
Untuk itu, dia berpesan, dalam memilih software yang utama adalah melalui vendor yang mumpuni dan terpercaya dalam menyediakan solusi. (ren)