Qualcomm Mau Jualan Prosesor ke Huawei, tapi Minta Izin Dulu ke Trump

Huawei.
Sumber :
  • YouTube

VIVA – Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) Qualcomm lagi meminta izin ke pemerintah Presiden Donald Trump agar bisa menjual chipset atau prosesornya ke perusahaan asal China yang lagi dimusuhi, Huawei.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Senin, 10 Agustus 2020, Qualcomm meminta pemerintah AS untuk menghapus perusahaannya dari larangan untuk berbisnis dengan Huawei. Dengan begitu perusahaan China itu bisa memborong chipset atau prosesor Snapdragon.

Menurut Qualcomm, larangan terhadap Huawei tak akan mematikan raksasa teknologi China itu untuk mendapatkan suku cadang yang dibutuhkan. Selain itu jutaan dolar AS hanya akan melayang ke pembuat chipset asing seperti MediaTek dan Samsung jika larangan tak juga dicabut.

Dengan Qualcomm mendapatkan batasan pelayanan sedangkan saingannya tidak akan membuat pergeseran dalam pangsa pasar chipset 5G di dunia. Produsen prosesor itu juga menegaskan pencabutan larangan akan menguntungkan Amerika dengan membuat perusahaan setempat lebih kompetitif.

Bukan kali ini saja Qualcomm semangat memperjuangkan Huawei. Dalam rapat laporan pendapatan, CEO Steve Mollenkopf menyatakan perusahaan sedang menentukan cara menjual produknya ke setiap produsen ponsel, termasuk raksasa teknologi China itu.

Kerja keras Qualcomm ini nampaknya harus terealisasi. Sebab, mulai 15 September mendatang pemasok dari AS tidak bisa lagi menjual komponen Huawei tanpa ada persetujuan dari pemerintahan Trump.

Hal ini mengikuti keputusan administrasi Presiden Trump pada Mei lalu, di mana Huawei ditempatkan dalam daftar hitam Departemen Perdagangan. Salah satu yang berdampak adalah produsen chipset yang digunakan produk Huawei, Kirin yaitu Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).

Sementara itu, Huawei juga memastikan tidak akan menggunakan chipset dari Kirin lagi. Huawei Mate 40 adalah produk terakhir yang ditenagai prosesor tersebut. Keputusan ini diumumkan langsung oleh CEO Consumer Business Huawei, Richard Yu, beberapa waktu lalu.