Obati Fobia Laba-laba Bisa Lewat Ponsel

Fobia laba-laba.
Sumber :
  • bbc
Getty Images
Antara 3% sampai 5% orang memiliki fobia yang dipicu oleh beberapa hal seperti hewan atau ketinggian.

Ketakutan berlebihan – atau fobia – terhadap sesuatu adalah perasaan yang dimiliki banyak orang. Dan laba-laba termasuk di antara pemicunya.

Terapi eksposur adalah cara yang paling terkenal untuk mengatasi fobia, tapi banyak orang menganggapnya menakutkan atau memakan waktu.

Jadi, mereka lebih suka menghindari pemicu itu dengan cara apapun, sehingga tidak perlu repot-repot mencari bantuan profesional.

Namun, teknologi bisa membantu orang mengatasi ketakutan mereka dengan membuka diri secara virtual ketika merasa nyaman.

Para ilmuwan di Universitas Basel, Swiss, telah mengembangkan aplikasi ponsel pintar atau smartphone yang membantu orang-orang mengatasi ketakutan mereka.

Aplikasi yang disebut Phobys ini menggunakan teknologi augmented reality (AR) atau realitas tertambah untuk memproyeksikan laba-laba virtual ke layar ponsel pengguna.

Cara kerja pengobatan ini seperti permainan, yakni pengguna beralih mengerjakan beberapa tugas menantang setelah merasa nyaman – seperti melihat laba-laba, mendekatinya, lalu meletakkan tangan mereka di bawahnya.

Untuk level yang rendah, tidak akan dipungut biaya alias gratis, tapi Anda harus membayar saat melewati sejumlah tahapan.

Tulisan di Journal of Anxiety Disorders mengatakan para peneliti melaporkan pengujian aplikasi dengan 33 peserta yang menggunakan di rumah sebanyak enam kali selama 30 menit selama dua minggu.

University of Basel, MCN
Aplikasi ini memberikan beberapa arahan seperti melihat laba-laba, mendekatinya, lalu meletakkan tangan mereka di bawahnya.

Kemajuan mereka kemudian dibandingkan dengan perasaan takut yang diperlihatkan oleh 33 peserta lain yang juga mengidap fobia laba-laba, tapi tidak memakai aplikasi tersebut.

Kedua kelompok diminta untuk mendekati laba-laba asli dalam kotak transparan sebelum dan sesudah percobaan. Mereka yang telah menggunakan aplikasi itu menunjukkan rasa takut dan jijik yang jauh lebih kecil di akhir percobaan, dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Eksposur terkontrol

"Lebih mudah bagi orang yang takut laba-laba untuk menghadapi laba-laba virtual daripada yang asli," kata Anja Zimmer, penulis utama penelitian tersebut.

Zimmer mengatakan kepada BBC, dia sangat fobia terhadap laba-laba beberapa tahun lalu", jadi keterlibatannya dalam penelitian ini atas dasar motivasi pribadi.