Menperin Sebut Apple akan Bangun 3 Pusat Riset di Indonesia

Logo Apple Inc. dan salah satu pendirinya, mendiang Steve Jobs.
Sumber :
  • REUTERS/Beck Diefenbach

VIVA.co.id – Pertemuan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dengan US-ASEAN Business Council menghasilkan dukungan positif untuk pengembangan industri teknologi di Indonesia. Apple dikabarkan akan memberikan dukungan bagi pengembangan teknologi digital di tanah air.

Hal ini diungkap Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, setelah mendapatkan laporan dari delegasi perusahaan itu, Manager Government Affairs Apple, Mirza Natadisastra. Dia mengungkapkan bahwa Apple akan membangun inovation center.

"Inovation centre ini untuk software teknologi digital yang akan dibangun di tiga lokasi di Indonesia. Ini hal yang positif karena pembangunannya akan melibatkan tiga lokasi riset dan pengembangan (R&D)," sebut Airlangga di Kementerian Perindustrian Jakarta pada Rabu, 19 Oktober 2016.

Ia mengungkapkan bahwa respons positif Apple ini adalah hasil dari dikeluarkannya kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk ponsel 4G yang diarahkan kepada nilai tambah dari perangkatnya.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Perindustrian No.65/2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai TKDN Produk Telepon Seluler, Telepon Genggam (Handphone), dan Komputer Tablet.

"Mereka buat setelah Kemenperin mengeluarkan kebijakan baru mengenai TKDN. Jadi, TKDN tidak berbasis pada hardware, melainkan software. Dan ini yang direspons oleh Apple," ujarnya.

Hasil pengembangan software tersebut akan diaplikasikan ke dalam telepon genggam dan perangkat lain yang sejenis. Sementara, tablet (tab) masih dalam tahap pengkajian. "Alat lain yang dekat kan tablet, karena bisa 4G juga," ungkapnya.

Dia optimistis realisasi pengadaan inovation centre dapat berjalan dengan lancar. "R&D tunggu submission dari sana. Enggak ada aturan investasi yang susah," tuturnya.

Selain Apple pihaknya belum mendapatkan pernyataan pasti. Hanya saja beberapa perusahaan seperti Honeywell dan HP masih bertanya mengenai sistem investasinya. (ase)