Grab Bergantung sama Indonesia

Senior Managing Director Grab Financial Group, Reuben Lai.
Sumber :
  • Flourish Ventures

“Saya ditolak oleh hampir semua orang sampai ada perusahaan pembiayaan di Indonesia yang mengiyakan. Kami akhirnya mulai membuat sistem penilaian, pengumpulan, dan pencairan. Itulah awal mula bisnis pinjaman kami," tegas Lai.

Dari situlah, Grab dapat bermitra dengan lebih banyak bank untuk menawarkan layanan baru, termasuk asuransi bagi para driver. Dengan mendaftar di Grab, maka driver bisa mendapatkan akses ke layanan keuangan dan perbankan. Saat ini transaksi tanpa uang tunai menjadi hal yang biasa.

"Padahal, belum lama ini, transaksi nontunai masih menjadi hal baru di pasar negara berkembang seperti Indonesia. Bagi banyak orang yang tidak berada di kota besar, itu masih terjadi," tutur dia.

“Di sini (Grab Financial Group/GFG) kami membangun semuanya berdasarkan tiga tesis sederhana. Harus dapat diakses jadi kami memecah dan membuat produk 'mikro-segalanya' seperti asuransi maupun pinjaman mikro, dan sebagainya," paparnya.

Selanjutnya, harus sangat nyaman dan dengan mulus tertanam dalam kehidupan sehari-hari pelanggan. Dan, yang terakhir adalah transparansi. "Kami memperjelas harga kami bagi pelanggan," jelas Lai.

Bukan itu saja. Grab juga sedang dalam proses membangun bank digital di Singapura pada 2022 setelah konsorsium Grab-Singtel memperoleh lisensi dari Monetary Authority of Singapore (MAS) pada Desember tahun lalu.

Sementara populasi negara kota itu sebagian besarnya sudah dilayani oleh sistem keuangan formal, namun 40 persen orang dewasa di Singapura ternyata tidak memiliki rekening bank. Mayoritas dari mereka tidak siap untuk pensiun.

"Artinya, mereka underinsured dan underinvested. Sedangkan bank konvensional bergerak lambat. Diperlukan waktu berminggu-minggu bagi bisnis dan individu baru untuk membuka rekening bank atau memperoleh pinjaman," papar Lai.

Cengkeram bisnis Grab

Selain Singapura, Indonesia juga menjadi pangsa pasar yang panas untuk bank digital dengan munculnya neobank baru yang didukung oleh perusahaan teknologi, termasuk 22 persen saham Gojek di Bank Jago dan Seabank milik Sea Group - sebelumnya bernama Bank BKE.

Pada Februari 2021, Grab dilaporkan mengincar kemitraan dengan pemberi pinjaman lokal Bank Capital untuk mendorongnya masuk menjadi bankan digital, meskipun mereka membantah laporan tersebut.