Menanti 6 Startup Penolong 500 Desa Tertinggal di Indonesia

Ilustrasi Startup.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id - Upaya pemerintah dalam memeratakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ke daerah pedesaan terus digencarkan. Melalui Solusi Desa Broadbrand Terpadu (SDBT), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) diharapkan dapat menyasar 500 desa di seluruh Indonesia.

SDBT merupakan program kompetisi yang diikuti oleh anak muda agar dapat memberikan solusi yang dihadapi oleh desa tertinggal. Saat ini, program tersebut telah menemukan 23 peserta startup yang terdiri dari tiga kategori solusi, yakni nelayan, pedalaman, dan pertanian.

"Peserta sebanyak 23 itu merupakan hasil penyaringan dari 238 yang sebelumnya telah mendaftar. Besok mereka akan memamerkan inovasinya dan bisa diketahui enam pemenang startup yang kita implementasikan ke desa-desa tahun 2017 nanti," ujar Direktur Perencanaan Monitoring & Evaluasi, Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI), Kementerian Kominfo, Danny Januar, ditemui di Aula Panca Gatra, Lemhannas, Jakarta, Selasa 2 Agustus 2016.

Danny mengatakan, program SDBT ini dijalankan secara terpadu, mulai dari pengembangan solusi, penerapan, hingga pembinaan dan pendampingan  yang mengikutsertakan komponen profesional dan masyarakat lokal yang relevan. Solusi yang dihasilkan adalah keterpaduan dari jaringan, perangkat, aplikasi, dan pendampingan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mencapai tujuan SDBT.

Direktur Pengembangan Pita Lebar, Kementerian Kominfo, Ismail, mengungkapkan SDBT ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, meningkatkan hasil produksi mata pencaharian di desa. Kedua, memastikan ketika terjadi hal yang membahayakan masyarakat dapat menghubungi pihak berwenang secara real-time, termasuk soal isu kesehatan, keamanan, keselamatan dasar, dan bencana alam. Ketiga, meningkatkan kualitas hidup masyarakat di bidang perdagangan, pendidikan, dan komunikasi.

"Implimentasinya tahun 2017 yang akan kita terapkan di wilayah yang sudah terjangkau dengan jaringan 3G dulu. Penerapannya juga kita tidak bisa berjalan sendiri, kita akan bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait untuk solusi broadband untuk desa ini," jelas Ismail.