Makin Dekat ke Matahari Malah Semakin Dingin, Kok Bisa

Ilustrasi misi SPP mendekati Matahari
Sumber :
  • www.futurism.com/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory

VIVA – Apa yang anda pikirkan tentang Matahari? umumnya kita berpikir pusat Tata Surya itu merupakan bola yang super panas. Di Bumi saja sudah terasa panasnya, apalagi jika mendekati sang surya tersebut, panasnya pasti akan lebih dahsyat lagi. 

Tapi, apakah benar demikian panasnya saat mendekati Matahari? Ternyata studi peneliti menemukan tidak demikian. Panas Matahari tidak berjalan dengan logika seperti itu. 

Dikutip dari HowStuffworks, Selasa 27 Maret 2018, saat mendekati Matahari ternyata panas yang didapatkan berkurang, makin dekat dengan Matahari makin dingin. Kok bisa begitu ya. 

Memang fotosfer atau lapisan dalam Matahari setebal 350 kilometer yang memancarkan cahaya memang sangat panas, yakni antara 3700 sampai 6200 derajat celsius. Tapi menariknya, lapisan di atasnya alias lapisan lebih luar dari atmosfer Matahari, malah lebih panas dari lapisan dalam. 

Lapisan setelah fotosfer, misalnya korona yang merupakan bagian terluar Matahari, panasnya mencapai 500 ribu derajat celsius. Panasnya berlipat-lipat dibanding panas di area fotosfer.

Perilaku unik Matahari ini menarik perhatian peneliti. Mereka berupaya menemukan kenapa hal itu terjadi. Peneliti berhipotesa gelombang magnetohydrodynamic (MHD) mendistribusikan energi dari bawah fotosfer dan secara langsung dikirimkan ke korona.

Universitas Northumbria di Kota Newcastle, Inggris, membuktikan hipotesa itu dengan pengukuran gelombang magnetohydrodynamic (MHD). 

Pada 2013, dengan memakai teknologi pencitraan canggih peneliti Inggris itu menguji lapisan kromosfer, atau lapisan atmosfer Matahari yang di antara fotosfer dan korona Matahari. Selain itu peneliti juga menguji gelombang MHD. 

Kalkulasi mereka mengonfirmasi gelombang MHD bertanggung jawab atas peralihan energi ke korona dan memanaskan lapisan tersebut. 

"Pengamatan kami telah memungkinkan perkiraan jumlah energi yang diangkut gelombang magnetik itu (MHD)" ujar peneliti dari Universitas Northumbria itu. 

Perkiraan tersebut, kata peneliti, mengungkapkan energi gelombang Matahari itu memenuhi kebutuhan energi yang signifikan yang tidak dapat dijelaskan dalam korona. (ren)