Mengenal Daeng Soetigna, Tokoh Google Hari Ini

Doodle Google pencipta Angklung.
Sumber :
  • Tangkapan layar doodle Google

VIVA.co.id – Ada yang istimewa dengan tampilan halaman pertama pencarian Google. Pada hari ini, Google mamajang doodle

Daeng merupakan figur yang dikenal sebagai pencipta diatonis. Google hari ini memperingati hari ulang tahun ke-108 pencipta Angklung tersebut. Daeng tercatat lahir pada 13 Mei 1908 di Garut (saat itu di masa Hindia Belanda) dan meninggal pada usia 75 tahun di Bandung pada 8 April 1984.

Mengutip situs Kementerian Pendidikan, Jumat 13 Mei 2016, dua tokoh yang berperan dalam perkembangan Angklung di Jawa Barat adalah Daeng Soetigna sebagai bapak Angklung Diatonis Kromatis dan Udjo Ngalagena yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog dan salendro.

Pada 1983, Daeng menciptakan Angklung dan tangga nada diatonis. Angklung inovasi Daeng itu berbeda dengan angklung pada umumnya yang berdasarkan tangga nada tradisional pelog atau salendro.

Inovasi Daeng itu membuat angklung dengan leluasa bisa dimainkan harmonis bersama alat musik barat sampai disajikan dalam orkestra.

Berkat inovasinya itu, Angklung semakin populer hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNESCO pada November 2010 mengakui Angklung sebagai warisan dunia yang harus dilestarikan.

Bicara soal riwayat, Angklung berasal dari bahasa Sunda, angkleung-angkleungan yaitu gerakan pemain Angklung dan membentuk suara klung yang dihasilkannya.

Secara etimologis angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Jadi, Angklung merujuk pada nada yang pecah atau tidak lengkap.

Bentuk Angklung terdiri dari dua atau lebih batang bambu dalam berbagai ukuran sesuai dengan kebutuhan tinggi rendahnya nada yang dibentuk menyerupai alat musik calung.

Menurut penulis Groneman, Angklung telah ada di Nusantara, bahkan sebelum era Hindu. Menurut Jaap Kunst dalam bukunya Music in Java, selain di Jawa Barat, angklung juga bisa ditemui di daerah Sumatra Selatan dan Kalimantan. Di luar itu, masyarakat Lampung, Jawa Timur dan Jawa Tengah juga mengenal alat musik tersebut.  

Di lingkungan Kerajaan Sunda (abad ke 12 – abad ke16) , Angklung dimainkan sebagai bentuk pemujaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Sri (dewi padi/dewi kesuburan).

Selain itu, konon Angklung juga merupakan alat musik yang dimainkan sebagai pemacu semangat dalam peperangan, sebagaimana yang diceritakan dalam Kidung Sunda.

Angklung memiliki beberapa jenis, antara lain Angklung Kanekes, Angklung Dogdog Lojor, Angklung Gubrag, dan Angklung Padaeng.

Setelah Daeng Soetigna, salah seorang muridnya, Udjo Ngalagena, meneruskan usaha Sang Guru mempopulerkan Angklung temuannya, dengan jalan mendirikan “Saung Angklung” di daerah Bandung. Hingga hari ini, tempat yang kemudian dikenal sebagai “Saung Angklung Udjo” tersebut masih menjadi pusat kreativitas yang berkenaan dengan Angklung.