Bermula dari Keresahan Terhadap Pengaruh Influencer di Media Sosial

Ilustrasi Anak Senang Bermain
Sumber :
  • freepik.com/jcomp

DI Yogyakarta, VIVA – Edukasi gizi di Indonesia masih menjadi isu penting yang memerlukan perhatian besar. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat, kebutuhan nutrisi, dan dampak gizi buruk terhadap kesehatan telah memicu berbagai permasalahan, terutama di kalangan anak-anak.

Masih banyak masyarakat yang tidak memahami prinsip dasar gizi seimbang, dan kondisi ini berdampak langsung pada kualitas kesehatan generasi mendatang. Banyak orang di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan, belum mengetahui pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Sering kali, makanan yang dikonsumsi hanya berdasarkan harga yang murah atau rasa yang enak tanpa memperhatikan kandungan gizinya. Bahkan, di kalangan keluarga dengan tingkat pendidikan yang cukup, masih ada yang kurang memahami manfaat sayur, buah, protein, karbohidrat kompleks, dan lemak baik dalam pola makan sehari-hari.

Minimnya edukasi gizi juga berkontribusi pada pola makan yang kurang beragam. Akibatnya, terjadi ketergantungan pada bahan pangan pokok tertentu, seperti nasi, yang berakibat pada kurangnya asupan protein, vitamin, dan mineral yang sebenarnya diperlukan oleh tubuh. Pemahaman yang rendah tentang pentingnya asupan gizi pada anak-anak turut menyebabkan tingginya angka malnutrisi di Indonesia, terutama dalam bentuk stunting (pendek).

Di Indonesia, edukasi gizi yang terintegrasi ke dalam sistem pendidikan dan masyarakat masih belum optimal. Edukasi gizi sebetulnya telah dimasukkan dalam kurikulum sekolah, tetapi sering kali hanya sebatas teori dan kurang dilengkapi dengan praktik nyata yang relevan. Selain itu, tenaga kesehatan yang bertugas di berbagai daerah juga masih terbatas jumlahnya, terutama di wilayah terpencil. Hal ini membuat penyebaran informasi tentang pola makan sehat menjadi tidak merata.

Kurangnya edukasi gizi telah membawa dampak serius dalam bentuk masalah kesehatan yang berkepanjangan. Salah satu contohnya adalah tingginya angka stunting pada anak-anak Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan, angka stunting di Indonesia masih di atas standar yang ditetapkan WHO, yakni 20%. Anak-anak yang mengalami stunting cenderung memiliki pertumbuhan fisik yang terhambat dan keterbatasan kognitif, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas mereka saat dewasa.