Gaji Pas-pasan Tapi Kebutuhan Banyak? Begini Mengaturnya Menurut Pakar

Ilustrasi keuangan.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Selain kesehatan, dampak pandemi virus corona atau COVID-19, yang banyak orang keluhkan adalah masalah keuangan. Tak sedikit yang kehilangan pekerjaan atau gajinya dipotong, karena perusahaan turut merugi akibat pandemi ini. 

Padahal, kebutuhan tentu tidak berkurang. Apalagi buat yang sudah berkeluarga, di mana kebutuhan sudah pasti lebih banyak dibanding yang masih single atau belum menikah. Namun, mau tidak mau, tentu kebutuhan harus tetap dipenuhi. 

Lalu, adakah cara yang bisa dilakukan agar semua kebutuhan bisa tetap terpenuhi dengan gaji atau pendapatan yang pas-pasan? Financial Advisor PT Tokio Marine Life Insurance Indonesia, Agus Helly, CFP, QWP, punya solusinya. 

"Sebagai manusia keinginan kita tidak pernah habis, sementara income kita limit. Kita merasa penghasilan Rp5 juta enggak cukup. Kemudian, naik jadi Supervisor gaji Rp10 juta enggak cukup juga,” ujarnya saat Webinar Cermat Kelola Keuangan di Era New Normal bersama Tokio Marine Life Insurance, Kamis 9 Juli 2020. 

“Kemudian naik lagi jadi manager, Rp15 juta tetep ngerasa enggak cukup. Jadi, permasalahannya bukan income besar atau kecil, tapi bagaimana cara mengaturnya," tambahnya.

Tips pertama, gaji yang didapat sisihkan dulu untuk diri kita sendiri, yaitu untuk masa depan atau ditabung. Untuk persentasenya, menurut Agus, minimal kita harus menyisihkan 10 -15 persen untuk ditabung. 

"Kedua, asuransi 10 persen juga. Kalau masih punya cicilan, kalau bisa maksimal 30 persen, buat cicilan rumah atau mobil. Kalau income Rp10 juta, cicilan KPR Rp3 juta, itu udah enggak boleh ambil cicilan lain," tegas dia. 

Nah, jika ditotal, kebutuhan yang dikeluarkan sebesar 55 persen. Sisanya 45 persen, harus diatur untuk memenuhi kebutuhan hidup lain atau lifestyle kita. 

"Bersosilisasi juga perlu, tapi harus bisa disiasati, sesuaikan dengan uang yang dipunya. Bukannya enggak boleh ke sana, tapi hasilkan income yang lebih besar dulu. Jadi, bukan masalah besar kecilnya gaji, tapi cara mengaturnya," kata Agus.