Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Sabtu, 28 Maret 2020 | 19:23 WIB

Jomblo atau Dimadu di Tengah Pusaran Poligami

Team VIVA »
Lazuardhi Utama
Editor DW Indonesia
DW Indonesia
Foto :
  • dw
Image Images/CTK Photo

Ada istilah baru yang dipopulerkan oleh artis Emma Watson yang terkenal dalam film Harry Potter yakni "self-partnered” atau berpasangan dengan diri sendiri.

Dalam wawancara dengan majalah Vogue, awal November 2019, Emma mengatakan, "I am very happy being single. I call it being self-partnered” yang bisa diterjemahkan bebas sebagai, "Saya sangat bahagia melajang. Saya sebut ini berpasangan dengan diri sendiri”. Istilah ini menjadi viral dan seakan mewakili aspirasi para jomblo yang selama ini lelah dengan pertanyaan bertubi-tubi, "Kapan menikah?”

Baca Juga

Berkat proklamasi Emma Watson, melajang bukan lagi "musibah” karena tidak dapat pacar atau tidak laku. Melajang bukan hal negatif karena gagal berulang-ulang dalam hubungan asmara. Berkat Emma Watson, berpasangan dengan diri sendiri menjadi pilihan rasional yang sengaja diambil bukan karena kehabisan pilihan sehingga terpaksa hidup dalam status lajang. Berkat Emma Watson, jomlo atau jomblo yang biasanya menjadi kata ejekan terangkat pamornya menjadi sebuah pilihan hidup karena kemauan pribadi bukan keterpaksaan atau korban patah hati.

Melajang karena pilihan hidup tampaknya menjadi tren. Individu-individu, laki-laki atau perempuan tak lagi galau muncul di acara-acara sosial meski tanpa pendamping karena kapasitas dan karakter diri sendiri, tak perlu seseorang untuk menjadi teman kencan, apalagi menghabiskan seluruh hidup untuk menemukan teman hidup yang cuma sekadar pelengkap atau eksistensi diri semata.

Dari data statistik di Jakarta yang dirilis dalam Susenas 2018 menunjukkan lebih dari 50% warga Jakarta berstatus lajang. Jumlah itu cukup besar karena total penduduk Jakarta mencapai 10,4 juta jiwa, artinya ada sekitar 5 juta jiwa yang jomblo.

Mungkin Anda berpikir, wajarlah jika di Jakarta banyak yang jomblo karena kesibukan pekerjaan, banyaknya peluang karier, penghasilan yang sudah memadai, pengaruh gaya hidup modern dan kehidupan mandiri yang mapan sehingga menyebabkan pernikahan bukan lagi menjadi suatu keharusan. Menikah dan membentuk keluarga bukan lagi tujuan hidup namun pilihan hidup.

Meski jumlah jomblo di Jakarta lumayan banyak, jika dilihat dari komposisi usia, tren melajang belum menjangkiti generasi milenial yang lahir tahun 1980 hingga 2000.

Berdasarkan buku "Profil Generasi Milenial 2018” terbitan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak tercatat lebih dari setengah generasi milenial berstatus menikah, kira-kira jika dibandingkan dari 10 orang generasi milenial maka ada enam orang menikah dan empat orang melajang.

Secara rentang usia generasi milenial, saat ini mereka berada dalam rentang usia produktif dan usia puncak reproduksi.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpapar Corona, Ini Data Tenaga Medis Meninggal Dunia
TVONE NEWS - 4 bulan lalu
Terpopuler