Jangan Asal, Ini Dosis Tepat Vitamin D untuk Cegah Osteoporosis

Ilustrasi vitamin/obat.
Sumber :
  • Freepik/topntp26

VIVA – Osteoporosis menjadi salah satu penyakit yang kerap diabaikan lantaran tak bergejala. Padahal, dampak yang ditimbulkan sangat berat yakni memicu patah tulang sehingga nantinya bisa menghambat aktivitas secara menyeluruh.

Risiko osteoporosis bergantung pada seberapa banyak massa tulang yang dicapai di masa muda. Di usia muda, tubuh akan membuat tulang baru lebih cepat dan massa tulang meningkat. Setelah awal usia 20-an, proses ini melambat, dan kebanyakan orang mencapai puncak massa tulang pada usia 30 tahun.

Setelah usia ke-35, kepadatan tulang akan terus berkurang 0,3 persen-0,5 persen per tahun. Sebagian besar masyarakat tak menyadarinya lantaran kepadatan tulang menurun secara perlahan tanpa gejala.

"Osteoporosis perlu diwaspadai karena dapat terjadi tanpa gejala hingga terjadi patah tulang, sehingga disebut dengan silent disease," ujar Koordinator Penyakit DM & GM, Kementerian Kesehatan RI, dr. Lily Banonah Rivai, M.Epid, dalam acara virtual bersama Anlene, baru-baru ini.

Menurut International Osteoporosis Foundation (IOF) 2020, osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai dengan penurunan kekuatan tulang, sehingga tulang mudah patah. Data dari Infodatin Osteoporosis 2020 menyebutkan bahwa dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko osteoporosis.

"Osteoporosis masih menjadi masalah global yang berkembang, setiap 3 detik diperkirakan terjadi patah tulang akibat osteoporosis," imbuh Lily Banonah.

Mencegah osteoporosis