Prevalensi Terus Turun, Pemerintah Masih Usaha Keras Turunkan Angka Stunting

Ilustrasi balita.
Sumber :
  • Freepik/rawpixel.com

KUPANG – Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan, dari tahun 2021 hingga 2022, Indonesia mengalami penurunan angka stunting sebanyak 2,8 persen.

Keberhasilan tersebut diikuti oleh Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga mengalami penurunan prevalensi stunting yang signifikan sejak 2019. Yuk, scroll untuk info selengkapnya.

Penjabat Gubernur NTT, Ayodhia G.L Kalake, mengatakan, pemerintah provinsi bersama kabupaten dan kota terus berupaya keras untuk mempercepat penurunan stunting. 

"Prevalensi stunting di NTT mengalami penurunan tahun 2021 itu masih 20,9 persen, tahun 2022 17,7 persen dan 2023 ini berdasarkan hasil timbang pada bulan Agustus terhadap 419.738 balita angkanya 15,2 persen. Ini masih cukup tinggi memang, karena ini setara dengan 63.804 balita stunting,” jelasnya di acara Edukasi Bidan dan Intervensi Stunting dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang digelar Dexa Group di di Gedung Eltari, Kupang, Kamis 7 Maret 2024. 

Plt. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN RI, Marianus Mau Kuru, menyampaikan bahwa stunting menjadi masalah bersama.

"Stunting adalah masalah kita semua. Tidak masalah satu orang saja. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan masalah stunting ini, harus kita melaksanakan secara kolaboratif, konvergen, bersama-sama," tegasnya.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Pusat Ade Jubaedah mengemukakan, IBI terus menjalin koordinasi dan kerja sama dengan semua pihak seperti BKKBN untuk menurunkan angka stunting dan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

"Dan hari ini membuktikan bahwa upaya konvergensi di Provinsi Nusa Tenggara Timur dilakukan dengan sangat luar biasa karena dukungan penuh dari stakeholder mulai dari pejabat gubernur, kepala BKKBN,” ungkap Ade.

Corporate Affairs Director Dexa Group Tarcisius Tanto Randy menyampaikan bahwa upaya penurunan angka stunting di Indonesia menjadi inisiatif strategis dalam kontribusi Dexa Group sebagai perusahaan farmasi Nasional yang fokus di bidang kesehatan.

"Kami sebagai salah satu pihak swasta yang fokus dalam bidang kesehatan yakni menyediakan produk farmasi yang bermutu, berkhasiat, dan aman, turut berkontribusi dalam Program Percepatan Penurunan Stunting ini," ucapnya.

"Dengan landasan perusahaan, Expertise for the Promotion of Health, bersama salah satu platform digital yang memantau kesehatan ibu hamil hingga masa menyusui yakni aplikasi Teman Bumil, dalam program ini berkolaborasi bersama untuk berkontribusi membantu pencapaian target penurunan stunting,” imbuh Tarcisius.

Sementara itu di hari berikutnya, Dexa Group melalui Dharma Dexa dan Argon Peduli berkolaborasi dengan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Ben Mboi dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Provinsi NTT menggelar bakti sosial berupa kegiatan operasi katarak dan penghijauan lingkungan berupa penanaman ratusan pohon flamboyan di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Ben Mboi Kupang, pada Jumat, 8 Maret 2024.