Ini Manfaat Suntik Insulin bagi Penderita Diabetes

Ilustrasi cek kolesterol.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Pengobatan insulin dilakukan untuk penderita diabetes. Selama ini, orang mengira suntik insulin dilakukan hanya bagi pasien diabetes yang sudah parah atau tahap lanjut. Padahal, suntik insulin juga dapat dilakukan sementara.

Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Endrokin Metabolik Diabetes dari Rumah Sakit Darmo, Prof. Dr.dr. Agung Pranoto,MSc, SpPD-KEMD, FINASIM mengatakan, terdapat dua jenis pengobatan insulin untuk penderita diabetes, yaitu sementara dan permanen.

Pengobatan insulin yang sifatnya sementara biasanya dilakukan jika pasien mengalami komplikasi, karena efek insulin tak hanya menurunkan gula darah, namun juga dapat digunakan untuk menyembuhkan luka.

"Misalnya pasiennya ada infeksi paru-paru, kemudian ada luka, ada sedikit lever, ada sakit apapun memerlukan penyembuhan yang intensif jadi harus diberi insulin meskipun sebelumnya dia bisa pakai tablet saja sudah normal. Nanti kalau komplikasinya sudah sembuh, kalau memang dasarnya gula darah bisa normal hanya pakai tablet, maka akan kembali ke tablet lagi," ujarnya kepada VIVA.co.id beberapa waktu lalu.

Ada pula terapi insulin yang sifatnya memang jangka pendek yakni selama satu sampai dua bulan, dinamakan short term rescue therapy. Terapi jangka pendek ini dilakukan untuk menyelamatkan sel beta pankreas atau sel penghasil insulin.

Agung memberikan contoh. Misalnya, pasien yang baru didiagnosis diabetes, kadar gula darahnya 400-500. Kalau diberi insulin secara intensif selama satu bulan, maka sel beta pankreasnya akan menghasilkan insulin dan terapi insulinnya bisa dilepas. Nantinya penyakit diabetes pasien tersebut bisa "sembuh". Bisa lepas obat atau mungkin bisa mengonsumsi obat dan tablet yang ringan.

"Kalau pasien baru yang gulanya tinggi kalau dikasih tablet, sel beta pankreasnya malah rusak. Nah, sel beta pankreas yang lagi knock out tadi, yang lagi teler itu kalau diistirahatkan jadi pulih, terus nanti dia akan recover dan berfungsi lagi," Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) itu.

Sedangkan pengobatan insulin yang sifatnya permanen umumnya dilakukan pada pasien yang sudah menderita diabetes selama beberapa tahun dan sudah mengalami gagal tablet. Pasien diabetes yang sudah komplikasi, yang memerlukan insulin secara intensif juga membutuhkan pengobatan insulin secara permanen.

Begitu pula dengan pasien diabet tipe satu yang autoimun. Agung mengatakan, para penderita diabetes tipe satu terdeteksi sejak kecil sehingga mereka sudah membutuhkan insulin saat masih anak-anak agar bisa tetap hidup, karena sel beta pankreasnya sudah rusak total dan habis karena tubuh merusak sendiri.

"Tapi itu sedikit. Pasien diabetes tipe satu itu mungkin hanya nggak sampai lima persen dari jumlah keseluruhan pasien diabetes. Yang banyak itu kan diabetes tipe dua yang susutnya pelan-pelan sehingga awalnya masih bisa olahraga, tablet bisa, lama-lama sel beta pankreasnya susut terus jadi harus diintensifkan obatnya. Lama-lama obat nggak mempan, dikasih insulin.'

(mus)